DKI Bakal Bangun Tempat Pengolahan Sampah di Pasar Tradisional

Setiap hari Pasar Induk Kramat Jati menghasilkan 60 ton sampah.

BERITA , NASIONAL

Selasa, 10 Mei 2016 13:42 WIB

Author

Ninik Yuniati

DKI Bakal Bangun Tempat Pengolahan Sampah di Pasar Tradisional

Ilustrasi sampah di pasar tradisional. Foto: Antara

KBR, Jakarta- Pemerintah Jakarta berencana membangun tempat pengolahan sampah di pasar-pasar tradisional, salah satunya di Pasar Induk Kramat Jati. Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat mengatakan, Pasar Induk Kramat Jati menghasilkan 60 ton sampah setiap hari. Dari jumlah itu, kata dia, 95 persennya adalah sampah organik. Sampah organik itulah yang bakal diolah dan diubah menjadi energi listrik serta pupuk.

"Pak Gubernur sudah bebaskan lahan di belakang untuk pengelolaan sampah, sampah itu diolah untuk jadi energi, bio decomposer, sehingga lampu-lampu di sini gunakan energi itu, masak juga bisa. Kemudian, limbahnya untuk pupuk di belakang situ," kata Djarot seusai  peringatan Hari Bumi di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (10/5/2016).

Upaya pemerintah daerah Jakarta didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dirjen Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Beracun Berbahaya Tuti Hendrawati mengatakan, pengolahan sampah di Kramat Jati bakal mengurangi beban TPA Bantar Gebang. Selain itu, energi listrik yang dihasilkan juga akan mengurangi pengeluaran pengelola pasar.

"Kalau kita berhasil mengolah sampah paling tidak di sini saja, tentu itu mengurangi beban yang ditanggung oleh TPA Bantar Gebang, sehingga sampah habis di sini. Kita bisa manfaatkan gas metannya dan listriknya, dan tentunya ini menghemat pengeluaran dari pengelola PD Pasar Jaya untuk tenaga listriknya" ujar Tuti.

Tuti menambahkan, keberhasilan Pasar Kramat Jati dalam pengolahan sampah, nantinya bisa dijadikan contoh untuk pasar tradisional lain. Hal ini, kata dia, sejalan dengan program revitalisasi pasar tradisional yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.

"Kalau di Pasar Kramat Jati menurunkan timbunan sampahnya itu berarti mengurangi timbunan sampah di seluruh Indonesia. Ini bisa jadi contoh pasar tradisional lainnya" tambah Tuti.

Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.