Ancam Populasi Ikan, Nelayan Cilacap Dukung Menteri Susi soal Cantrang

Nelayan paham cantrang bisa menghabisi populasi ikan dalam waktu cepat.

BERITA , NUSANTARA

Rabu, 06 Apr 2016 15:47 WIB

Author

Muhamad Ridlo Susanto

Ancam Populasi Ikan, Nelayan Cilacap Dukung Menteri Susi soal Cantrang

Perkampungan nelayan Sentolo Kawat, Cilacap, Jawa Tengah. Foto: KBR/Muhamad Ridlo

KBR, Cilacap- Nelayan Cilacap, Jawa Tengah mendukung aturan larangan penggunaan jaring cantrang. Tokoh nelayan Senotolo Kawat, Pairan mengatakan penggunaan cantrang dalam jangka panjang dinilai bakal mengancam kehidupan nelayan kecil seperti dirinya. Cantrang, kata dia, tak ramah lingkungan.

Pairan menjelaskan, cantrang merupakan jaring yang mampu menangkap mulai ikan ukuran sangat kecil hingga besar. Selain itu, dalam operasionalnya, cantrang kerap merusak terumbu karang yang berada di dasar laut. Kemampuan tangkap ini dinilai menghabisi populasi ikan dalam waktu cepat.

“Saya, sebagai nelayan menganggap memang menggunakan alat seperti itu tidak ramah lingkungan. Kami tidak setuju. Yang jelas, merusak terumbu karang. Yang kedua petumbuhan habitat ikan kecil (lamban)”.

Pairan menambahkan saat ini cantrang digunakan oleh sebagian kecil nelayan bermodal menengah hingga besar. “Cantrang hanya bisa digunakan oleh nelayan dengan ukuran kapal lebih dari 20 gross ton. Sedangkan nelayan kacil, hanya menggunakan alat pancing dan jaring biasa.”kata dia.

Senada dengan Pairan, Ketua II Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap, Parjo setuju dengan pelarangan penggunaan cantrang. Oleh karena itu dia mengaku tidak mengikuti demonstrasi menolak aturan pelarangan penggunaan cantrang.

Dia juga menjamin saat ini tidak ada nelayan anggota HNSI Cilacap yang menggunakan cantrang. Jumlah nelayan yang terdaftar di HNSI adalah 13 ribu orang. Sebagian besar merupakan nelayan kecil yang dipastikan tidak mungkin menggunakan cantrang.

“Maksud Menteri Susi itu bagi nelayan Cilacap itu justru baik. Penggunaan cantrang itu ikan kecil besar akan tertangkap semua, Pak.”tutupnya.

Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

News Beat

Kabar Baru Jam 20

Ngopi Bersama Azul Eps33: Gembira Bersama Temenggung

Kabar Baru Jam 19