Rumah Aira, Penjaga Asa Anak-anak dengan HIV/AIDS

Rumah Aira di Semarang, Jawa Tengah. KBR/Aninda Putri

Senin, 16 Maret 2020

Baru-baru ini, obat antiretroviral (ARV) untuk orang dengan HIV AIDS sempat langka di banyak daerah. Krisis stok obat ARV sudah berulang kali terjadi, tanpa ada solusi nyata dari pemerintah. Hal itu merupakan satu dari banyak diskriminasi yang dialami ODHA. Di tengah minimnya perhatian negara, muncul inisiatif dari warga untuk merangkul para ODHA. Salah satunya, Yayasan Rumah Aira di Semarang, Jawa Tengah. 

- Rumah Aira, Penjaga Asa Anak-anak dengan HIV-AIDS
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Semarang - Tangis bayi, celoteh dan gelak tawa anak-anak mewarnai keseharian rumah bercat biru di Jalan Kaba Raya Timur, Kota Semarang, Jawa Tengah. 

Tak ada yang bakal mengira pemilik suara-suara itu adalah anak dengan HIV/AIDS. 

Mereka ditampung dan dirawat di Yayasan Rumah Aira.

Yayasan ini didirikan oleh Maria Magdalena Endang Sri Lestari yang akrab disapa Mama Lena pada 2015 silam.

"Saya mendirikan Rumah Aira semata-mata karena kemanusiaan. Dan saya sebagai seorang wanita dan ibu ingin menjadi ibu banyak anak yang walaupun bukan lahir dari rahim saya sendiri," kata Mama Lena. 

Nama Aira dipilih karena menyiratkan makna mendalam. Aira merupakan kependekan dari Anak Itu Rahmat Allah. 

Mama Lena tergugah membangun Rumah Aira karena prihatin dengan diskriminasi yang dialami orang dengan HIV/AIDS atau ODHA, termasuk anak-anak.

Rumah Aira mengasuh sekitar 30 anak, 6 di antaranya tinggal di sana. 

 

Pendirian Rumah Aira sempat ditolak akibat masih kentalnya stigma tentang HIV. Selain itu, Mama Lena juga dipermasalahkan karena beragama Katolik.

"(Saya) dianggap mau kistenisasi karena saya seorang nasrani. Saya tidak pernah marah karena belum pahan dan belum kenal saya secara pribadi. Dan akhirnya ada teman dari NU dan Muhammadiyah yang membantu untuk mensosialisasikan bahwa Rumah Aira murni untuk kemanusiaan," kisah Mama Lena.

Keberadaan Rumah Aira juga menyelamatkan perempuan berinisial SR dan bayinya yang kini berusia 4 bulan. 

SR ditolak keluarganya setelah divonis terinfeksi HIV sekitar dua tahun lalu. 

Ia mendapat virus itu dari bekas suaminya yang sudah lama kabur tanpa jejak. 

SR dan anaknya kemudian ditampung di Rumah Aira. 

Kebutuhan mereka tercukupi, termasuk pemeriksaan kesehatan dan suplai obat antiretroviral atau ARV gratis. 

"Fasillitas dicukupi ya mbak semua dicukupi sama mama Lena seperti obat-obat, makanan dan susu. Sedangkan pengobatan tiap bulan kita dibawa ke Puskesmas Halmahera," tutur SR. 

SR menepis tudingan bawah Rumah Aira membawa misi agama tertentu. Ia memastikan tiap anak asuh diberi kebebasan beribadah.

“Di sini gak dibeda-bedain kalau yang Islam itu disediakan ada mukena yang non-Islam ya pergi ke Gereja, itu aja diperingatkan disuruh salat untuk minta perlindungan yang Kuasa," lanjut SR. 

Suara sekelompok bocah mengaji datang tak jauh dari Rumah Aira. Mereka duduk melingkar sambil melantunkan ayat-ayat Al Quran. Di antara mereka, ada Rafa, anak asuh Rumah Aira. 

Guru ngaji Rafa, Agusliyana mengatakan, Mama Lena lah yang berinisiatif mendaftarkan anak asuhnya. 

"Yang penting anaknya mau ngaji. Dia niat. Orang tua mendukung. Kita tidak memandang apakah dia dari Rumah Aira," ungkap Agusliyana.

Jerih payah Mama Lena membuahkan hasil. Anak-anak asuh Rumah Aira mulai diterima masyarakat. Mereka juga bisa bersekolah tanpa khawatir mendapat diskriminasi. 

"Anak-anak yang lahir dari ibu terinfeksi HIV dapat sehat, berkembang dengan baik, dapat bersekolah, dirawat dengan cinta kasih sehingga tidak ada perbedaan dengan anak-anak sehat," harap Lena. 

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Semarang mencatat peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS selama tiga tahun terakhir. Pada 2017, jumlah kasus mencapai 534, 2018 meningkat menjadi 640 kasus dan 2019 sebanyak 643 kasus. 

Pengelola Program dan Monitor Evaluasi KPA Kota Semarang, Sutini mengungkapkan kasus HIV/AIDS ibarat fenomena gunung es. Penularan HIV/AIDS didominasi pasangan heteroseksual dan penggunaan narkoba jenis suntik. 

"Hampir seluruh profesi bisa terjangkit. Kumulatif per tahun yang paling banyak itu laki-laki 49 persen dan perempuan 41 persen," kata Sutini.

KPA bekerja sama dengan dinas kesehatan setempat menyediakan layanan tes HIV gratis di seluruh rumah sakit dan puskesmas bagi warga Kota Semarang. Sedangkan, warga luar kota hanya dikenakan biaya registrasi Rp5 ribu. 

"Tes HIV disediakan gratis kecuali KTP non-Semarang. Begitu mereka terinfeksi langsung pengobatan (gratis)," pungkas Sutini.