Bagikan:

Asosiasi: Harga Daging Sapi Akan Terus Naik

KBR68H, Jakarta - Asosiasi Pedagang Daging Indonesia mencurigai ada kongkalikong pemerintah dengan pengusaha dalam penetapan jatah impor daging sapi Januari-Maret tahun ini.

BERITA

Senin, 20 Jan 2014 15:08 WIB

Author

Doddy Rosadi

Asosiasi: Harga Daging Sapi Akan Terus Naik

asosiasi, daging sapi, harga

KBR68H, Jakarta - Asosiasi Pedagang Daging Indonesia mencurigai ada kongkalikong pemerintah dengan pengusaha dalam penetapan jatah impor daging sapi Januari-Maret tahun ini. Kenaikan harga acuan pemerintah jauh menggelembungkan untung swasta.

Padahal, pemerintah bisa menunjuk perusahaan negara untuk mengimpor tanpa menaikan harga acuan. Sebelumnya, Kementerian Perdagangan mengeluarkan izin kuota impor sapi sebanyak 150 ekor sepanjang Januari-Maret dengan menaikkan harga acuan Rp 91.200/kg.

Kenapa Indonesia masih terus mengalami kekurangan pasokan daging? Simak perbincangan penyiar KBR68H Agus Luqman dan Rumondang Nainggolan bersama Ketua Bidang Pembiayaan dan Fasilitas APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia), Asnawi dalam program Sarapan Pagi.

Kita sebetulnya kekurangan pasokan daging berapa?

Kalau bicara pasokan daging dalam negeri itu untuk kebutuhan di 2014 sekitar 660 ribu ribu ton. Karena melihat daripada sektor pertumbuhan ekonomi yang cukup positif, karena kita melihat dari seluruh pelosok tanah air dimana pendapatan per kapita penduduk mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Artinya pola hidup mereka pun juga sekarang berubah yang tadinya makan daging itu satu bulan sekali bahkan di daerah ada yang satu tahun sekali, yaitu berorientasi dengan hari raya. Dengan pertumbuhan ekonomi itu sudah barang tentu mereka juga ingin mengubah satu tatanan kehidupan dalam kebutuhan memenuhi gizi.

Ini 6 ribuan ton ini untuk kebutuhan per tahun?

Betul sekali.

Ada rencana impor Kementerian Perdagangan bahwa ada sekitar 185 ribu sapi yang bisa diimpor pada akhir bulan ini. Itu setara dengan berapa ton?

Kalau diorientasikan dari 185 ribu ekor sapi itu dirata-rata 200 kilogram itu baru masuk di posisi 37 ribu ton. 


Itu belum mencukupi juga?

Sangat belum mencukupi dan itu andaikata masuk periode akhir Januari ini hanya mencukupi kebutuhan dalam negeri sampai bulan Maret. Sapi siap masuk di bulan Januari itu kita juga belum tahu persis apakah itu sapi siap potong atau memang yang harus dilakukan breeding dulu. Kalau breeding itu pengembangbiakan, jadi harus dilakukan fattening atau penggemukan dulu.

Berapa lama kalau proses penggemukan?

Kalau perusahaan besar itu kisaran tiga bulan, maksimal empat bulan.

Pemerintah berencana menaikkan harga acuan dari sekitar Rp 76 ribu menjadi Rp 90 ribuan. Menurut Anda impor tetap harus dilakukan, kenapa Anda mengatakan ini justru hanya menguntungkan para importir?


Kalau saya melihat pemerintah mencanangkan swasembada daging sejak 2004-2009 golnya di 2010. Dengan kegagalan pemerintah tahap satu masuk tahap kedua atau jilid dua Kabinet Indonesia Bersatu itu sampai 2014, ternyata pun mengalami kegagalan. Bahkan sesuatu hal yang sangat fluktuatif, harga itu boleh dikatakan sejarah mencatat ini harga termahal di dunia. Kenapa saya katakan kegagalan, ternyata memang pemerintah bertujuan untuk swasembada tapi tidak diiringi dengan perangkat pendukung lainnya. Contohnya bagaimana kita membangun sinergisitas program pemerintah dengan para peternak lokal yang ada di seluruh provinsi di Indonesia, terutama di sentra-sentra industri peternakan misalnya Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan, NTT, NTB, dan sebagainya. Itu merupakan daerah-daerah industri peternakan yang produktif memang bisa memberikan pasokan kebutuhan skala nasional. Jika memang itu program pemerintah sudah barang tentu ada sinergisitas yang berorientasi simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan. Artinya bagaimana program itu bisa melibatkan unsur para peternak lokal dan peternak lokal diberikan bibit-bibit unggul yang mereka bisa kembangbiakan, di sisi lain mereka diberi satu pendidikan dan pelatihan, dan sebagainya. Termasuk juga mereka diberikan satu tempat pasar, contohnya ketika pasca panen mereka bisa jual tanpa harus lewat tengkulak, bisa diambil lagi oleh pemerintah. Jika itu sudah terjadi tinggal kita membangun infrastruktur armada laut, armada darat semacam angkutan umum untuk ternak. Jangan disatukan antara angkutan manusia, jasa, dan sebagainya. Kalau kita lihat saat ini armada laut kita kapal laut itu kalau kita berangkatkan sapi dari NTT atau NTB itu ada mobil, ada motor, dan sebagainya. Kalau hewan keluar dari situ sudah stres, tingkat stres mereka itu mengalami depresi yang mengurangi bobot badan kisaran antara 10-15 persen.

Kalau Anda melihat sebetulnya penyebaran sekarang ini yang paling rendah pasokan daging itu dimana?

Kalau pasokan daging penyebaran untuk angka statistik nasional memang ada di posisi Jabodetabek. Jadi kebutuhan nasional untuk daging ada di tiga provinsi yahitu Jakarta, Banten, dan Jawa Barat itu yang sangat dominan membutuhkan daging besar setiap tahunnya antara 50-65 persen. Selebihnya itu masuk di kota-kota besar di seluruh provinsi Indonesia.

Para pedagang selama ini mungkin banyak yang dijual adalah daging-daging impor. Dibandingkan dengan daging lokal kira-kira para pembeli atau calon pembeli piliha yang mana?

Bicara produk lokal dan produk impor sebenarnya yang dibutuhkan oleh para pedagang dan para konsumen khususnya di Indonesia adalah berorientasi kepada daging yang bersifat fresh. Mau sapi impor atau lokal itu adalah fresh, bukan frozen. Sedangkan frozen itu memiliki pasar tersendiri contohnya hotel, restoran, café, supermarket itu pasar mereka. Sedangkan kalau kita melihat pasar yang ada di Indonesia boleh dikatakan 70 persen adalah pasar ritel tradisional, sedangkan untuk pasar ritel tradisional ini membutuhkan sapi siap potong baik itu didatangkan dari Australia sapi-sapi tersebut harus digemukkan terlebih dahulu. Konsumsi yang sudah disiapkan adalah konsumsi produk dalam negeri, artinya sama saja walaupun ini jenis sapi impor tapi mengkonsumsi produk bahan baku olahan pakan dari dalam negeri. Sama saja artinya sapi lokal, sapi segar daengan kondisi produk pakan lokal. Untuk sapi lokal juga seperti itu, dalam posisi keadaan sekarang melihat daripada yang disebutkan objeknya adalah daging kenapa kalau memang butuh daging harus pelihara sapi atau kita baiknya impor daging saja sebenarnya itu juga tidak benar. Sedangkan dari impor daging memiliki market sendiri, sedangkan sapi-sapi siap potong untuk masuk ke jagal itu punya market sendiri. Saya memberi satu masukan, kenapa harga daging tidak kunjung turun malah mengalami kenaikan trennya. Kalau kita lihat inilah suatu kegagalan program pemerintah yang harus dibayar mahal oleh rakyat, dengan adanya satu perubahan referensi harga dari Rp 76 ribu sampai Rp 91 ribu pertanyaannya apakah pemerintah yang menanggung kerugian konsumen itu atau apakah rakyat. Kalau saya melihat ini harus ditanggung oleh rakyat, karena rakyat membeli dengan harga dari Rp 76 ribu menjadi Rp 91 ribu, kalikan jumlah kebutuhan nasional berapa miliar rupiah bahkan mungkin triliunan rupiah.

Kalau alasannya tentu biaya impor harus juga mempertimbangkan mata uang rupiah yang sekarang sedang terpuruk. Bagaimana?

Sebenarnya kalau kita melihat terjadinya pesta demokrasi lima tahunan itu selalu terjadi fluktuatif yang sangat tajam, itu satu. Kedua kita melihat setiap terjadinya pergantian tahun awal tahun itu selalu terjadi iklim yang sangat ekstrim di Australia, kalau kita sudah mengetahui secara kontinuitas seperti itu artinya pemerintah sudah melakukan antisipasi terhadap program-program tertentu. Kalau memang itu sinyal-sinyal itu sudah dipahami dan dijadikan satu program tertentu saya yakin apapun yang terjadi di Indonesia maupun di Australia itu semua sudah bisa diantisipasi. Artinya bagaimana mengantisipasi itu ya salah satunya dimana pemerintah memiliki Badan Usaha Milik Negara. Kalau memang itu dilihat sebagai produk program yang harus menjadi stabilitas, bagaimana mau jadi stabilitas kalau memang barang itu dilepas di pasar, bukan milik pemerintah.

Kalau dengan kenaikan harga acuan ini apakah Anda melihat akan ada terjadi penurunan konsumsi sapi di Indonesia atau bagaimana?

Kalau saya perhatikan sangat berpengaruh dan berdampak negatif terhadap konsumen. Terus terang saja berbarengan dengan keadaan saat ini sudah barang tentu kita lihat gas saja mengalami kenaikan yang sangat luar biasa yang pada akhirnya intervensi pemerintah untuk mengambil sikap, akhirnya ada tingkat toleransi kenaikan. Terus di sisi lain listrik, itu juga akan mengalami kenaikan. Dari beberapa hal yang sangat urgent terhadap kebutuhan rumah tangga maupun industri itu berdampak sekali terhadap kapasitas kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya.
 
Ada perkiraan?

Kalau saya melihat ini contoh soal saja dengan ada kondisi iklim yang sangat ekstrim, perubahan harga, pertukaran nilai rupiah, dan sebagainya. Teman-teman kami ini sudah banyak sejak di bulan November –Januari ini kurang lebih saya mencatat 20-30 persen teman-teman kami sudah tidak berdagang karena tidak bisa mengikuti irama harga, baru menerima harga kenaikan tiga hari kemudian kenaikan timbul lagi. Kalau dihitung-hitung dari bulan Agustus-Januari sekarang ini kenaikan signifikan sekali, dari posisi timbang hidup sapi itu dari harga Rp 31 ribu sampai Rp 33 ribu sekarang sudah masuk di posisi kisaran sampai Rp 41 ribu per kilogram itu kenaikan di atas 35 persen.

Kalau dijual ke konsumen sudah berapa?
 
Kita perkirakan itu referensi harga yang diberikan pemerintah Rp 91.200 jelas itu harga posisi yang ada di jagal, untuk ritel pedagang itu tidak mungkin jual Rp 91.200. Jika pemerintah melihat posisi keadaan seperti ini terjadi fluktuatif dengan antisipasi sebelumnya pemerintah mampu melakukan, saya yakin perubahan terjadinya ini tidak terlalu bergejolak mencapai angka di atas 20 persen. Pemerintah tinggal mengeluarkan sapi-sapinya, bikin harga sekian, semua pedagang bisa ambil dengan pemerintah punya dan buka kran. Sekarang kalau memang semua sapi-sapi dilepas pemerintah tidak memiliki tapi yang memiliki pengusaha-pengusaha besar, pemerintah hanya sebagai pengatur kebijakan. 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

IPK Anjlok, Indonesia Makin Korup?

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending