Bagikan:

Epidemiolog: Hindari Euforia, Jangan Keliru Narasikan Kebijakan Pelonggaran Masker

Pemerintah diingatkan berhati-hati menyampaikan narasi pelonggaran penggunaan masker di ruang terbuka, agar tidak terjadi euforia berlebihan.

NASIONAL

Rabu, 18 Mei 2022 20:15 WIB

Kebijakan Pelonggaran Masker

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman. (Foto: ANTARA/Dokpri. Dicky Budiman)

KBR, Jakarta - Keputusan pemerintah melonggarkan penggunaan masker mendapat kritikan kalangan ahli. Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menilai, situasi COVID-19 di tanah air belum sepenuhnya aman. Dicky pun mewanti-wanti ancaman varian lain COVID-19 ketika capaian vaksinasi dosis ketiga juga masih rendah.

Selengkapnya, berikut perbincangan jurnalis KBR, Astri Septiani dengan Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman yang dilakukan Rabu (18/5/2022):

Pemerintah memberlakukan pelonggaran dengan menghapus kewajiban penggunaan masker di ruang terbuka dan syarat tes antigen untuk perjalanan luar negeri karena mengklaim pandemi terkendali dan imunitas dan antibodi yang tinggi. Bagaimana pendapat Anda?

Jangan sampai membangun euforia atau percaya diri berlebihan yang akhirnya membuat kita abai dan merugikan kita sendiri. Karena penggunaan masker ini adalah salah satu perilaku yang selain mudah, murah juga efektif dalam mencegah penularan penyakit yang ditularkan lewat udara seperti COVID-19 ini. Apalagi dikombinasikan dengan peningkatan cakupan vaksinasi. Kita, saya kira harus bijak dan tidak terburu-buru.

Saya kira saya sependapat dengan sikap Pak Presiden Jokowi yang sebelumnya yang bahwa kita akan bertahaplah. Kan kita ada masa transisi yang disampaikan 6 bulan itu. Kita harus lihat. Karena saya memprediksi sih akhir tahun ini kita sudah dalam situasi yang jauh lebih baik dan aman. Tapi kalau banyak negara yang melakukan pengabaian, risikonya menjadi besar. Ini yang harus diingat sekali lagi.

Kita belum dalam kondisi yang cukup aman untuk betul-betul melakukan pelonggaran dalam artian pembebasan masker ini ya. Jadi harus benar-benar dikendalikan dengan terukur dulu. Ya bersabar sih menurut saya.

Lalu kapan Indonesia bisa dikatakan aman untuk bisa melakukan pelonggaran seperti soal penggunaan masker?

Setidaknya yang aman itu pertama kita harus menunggu ya bagaimana dampak dari arus mudik balik kemarin yang menurut saya setidaknya di bulan Juni harus kita tunggu. Kemudian itu kan juga bertepatan dengan siklus empat bulanan yang prediksinya bisa terjadi bisa tidak. Tapi kita harus tunggu.

Kita sebetulnya kalau melihat data secara umum yang ada di global kita bisa relatif aman membuka masker kalau misalnya populasi umum sudah setidaknya 50% mendapat booster dan di populasi berisiko seperti lansia sudah di minimal 80% gitu. Itu yang sangat juga harus dipertimbangkan ya untuk melakukan pelonggaran kaitan masker ini dalam situasi yang lebih aman dan relatif lebih kecil risiko.

Baca juga:

- Indonesia Longgarkan Penggunaan Masker, WHO Ingatkan Status Belum Endemi COVID-19

- Jokowi Umumkan Pelonggaran Pakai Masker

Adakah contoh dan pembelajaran yang bisa dambil dari negara lain yang sudah banyak melakukan pelonggaran? Dan apa masukan Anda untuk pemerintah terkait pelonggaran serta penanganan pandemi saat di Indonesia?

Bagaimanapun ya karena situasi masih pandemi maka situasi ini masih sangat dinamis. Apa yang terjadi di Korea Utara sekarang, atau di sebagian China misalnya atau mungkin saja di Ukraina itu bisa melahirkan potensi perburukan dengan lahirnya varian baru. Yang tentunya bisa akhirnya memperburuk situasi di berbagai belahan termasuk di negara-negara yang umumnya sudah terlampau longgar dengan melakukan pelonggaran yang tidak terkendali, tidak terukur, tidak mempertimbangkan aspek kesiapan perubahan perilaku maupun modal imunitas yang memadai, yang tentunya harusnya di masalah booster yang harusnya di atas 50% dan kelompok rawan harus di atas 80%.

Nah oleh karena itu adanya pelonggaran berpotensi mengalami perburukan. Itu yang terjadi di Amerika. Karena di beberapa negaranya modalnya belum memadai untuk melakukan pelonggaran. Selain itu kita tahu bahwa memang betul kalau bicara dampak dari COVID-19 seiring bertambahnya bekal atau modal imunitas, yang sakit makin berkurang dalam artian parah ya masuk rumah sakit, yang meninggal juga sangat jadi rendah, tapi bicara kasus infeksi bisa tetap tinggi atau banyak.

Disinilah kita masih harus menyadarkan pada semua dia bahwa terinfeksi COVID-19 itu tetap berbahaya karena ada ada potensi "long-covid" yang kita belum tahu dampaknya jangka panjang, bahkan yang akut pun kita kan masih belum tahu secara detail. Belum lagi yang menengah dan panjang sehingga yang namanya prinsip kesehatan, mencegah lebih baik daripada terinfeksi COVID-19 itu jauh lebih utama dan penting dilakukan.

Editor: Fadli Gaper

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Komunitas Biboki Lestarikan Tenun Ikat Tradisional

Living Law, Apa Dampaknya Jika Masuk dalam RKUHP?

Kabar Baru Jam 10

Most Popular / Trending