Dideportasi karena Ziarah ke Kuburan Massal, Kerabat Minta Pencekalan Tom Dicabut

Kepolisian, TNI, dan Badan Intelejen Negara diminta berhenti mengintimidasi kerabat Tom yang ikut dalam rombongan ziarah.

BERITA | NASIONAL

Senin, 19 Okt 2015 15:45 WIB

Author

Rio Tuasikal

Dideportasi karena Ziarah ke Kuburan Massal, Kerabat Minta Pencekalan Tom Dicabut

Tom Iljas saat diperiksa di Imigrasi (Foto: KBR/Yulia E.)

KBR, Jakarta - Kerabat Tom Iljas meminta pencekalan terhadap Tom segera dicabut. Tom adalah seorang kakek yang berziarah ke makam korban 1965. Ia lantas ditangkap polisi dan dideportasi karena dituduh membuat film.

Ferry Kusuma dari Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) mengatakan akan melayangkan surat permintaan pencabutan cekal ke Kementerian Hukum dan HAM. Surat itu sedang disusun.

"Setelah ini kami berencana mengirim surat untuk mencabut pencekalan," ujar Ferry di LBH Jakarta, Senin (19/10/2015) siang.

"Suratnya sedang disusun. Kalau sudah jadi, kami akan kirimkan kepada wartawan," imbuhnya.

Ferry juga meminta  Kepolisian, TNI, dan Badan Intelejen Negara berhenti mengintimidasi kerabat Tom yang ikut dalam rombongan ziarah. Kerabat Tom tinggal di Padang dan Jakarta. Salah satu kerabat sempat didatangi orang yang mengaku sebagai anggota BIN dan bertanya kepada tetangga mengenai informasi orang tersebut.

Tom Iljas bersama rombongan, pekan lalu, berziarah ke makam orangtuanya yang jadi korban 1965 di Padang. Rombongan dituduh membuat film mengenai korban 1965, kemudian ditangkap dan diinterogasi polisi. Tom akhirnya dideportasi.

Tom Iljas lahir di Padang, 77 tahun lalu. Tom Iljas   adalah salah satu mahasiswa teknik (mekanisasi pertanian) tahun 1960-an yang dikirim oleh Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat untuk melanjutkan kuliah di Tiongkok. Ia kemudian terhalang pulang dan menjadi eksil karena dikaitkan dengan tragedi 30 September 1965. Semenjak saat itu ia bermukim di Swedia dan menjadi warga negara Swedia. Saat ini Tom Iljas adalah salah satu anggota Diaspora Indonesia di Swedia.  


Editor: Rony Sitanggang
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Pemkot Cirebon Siapkan Database Warga Penerima Kompensasi Terdampak Covid-19

Anjuran Penggunaan Masker bagi Semua

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Cegah Penyebaran Covid-19, WHO Dukung Kebijakan Penggunaan Masker untuk Semua Orang