Ajak Suku Anak Dalam Menetap, AMAN: Presiden Tak Tahu Budaya

Mereka berpindah-pindah karena menjadikan hutan sebagai rumah mereka.

BERITA | NASIONAL

Sabtu, 31 Okt 2015 16:27 WIB

Author

Zulpakar

Ajak Suku Anak Dalam Menetap, AMAN: Presiden Tak Tahu Budaya

Ilustrasi: rumah Suku Anak Dalam di pinggir hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi (foto: www.dephut.go.id)

KBR, Jakarta- Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) meminta presiden Joko Widodo mempelajari budaya Suku Anak Dalam sebelum menawarkan hunian tetap agar tak lagi nomaden atau hidup secara berpindah-pindah. Sekretaris Jenderal AMAN Abdon Nababan mengatakan, Suku Anak Dalam dan Orang Rimba sebenarnya bukan berpindah-pindah, melainkan menjadikan hutan sebagai kampung halaman mereka. 

Pemerintah menurut dia harus mempertahankan eksistensi orang Rimba dan Suku Anak dalam sebagai bagian dari kekayaan budaya nusantara dengan cara mempertahankan wilayah hidup mereka dari Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan sawit yang selama ini membuat kedua suku terdesak.

"Masalah Orang Rimba dan Suku Anak Dalam sebenarnya bukan soal pembangunan rumah, tapi soal wilayah hidup mereka memang semakin menyempit karena sebagian besar dari wilayah hidup mereka itu sudah dibuat menjadi HTI, kebun sawit, itu masalahnya," kata Abdon kepada KBR, Sabtu (31/10).

"Jadi masalah mereka itu ruang hidup, bukan mereka tidak perlu rumah tapi menyederhanakan persoalan orang rimba dengan merumahkan itu menurut saya kayaknya presiden jokowi tidak dapat banyak masukan," ujarnya lagi.

Abdon menambahkan pemerintah harus segera menyelesaikan urusan kewarganegaraan Orang Rimba dan Suku Anak dalam yang hingga kini belum jelas, karena banyak dari mereka tak memiliki identitas kependudukan. 

Abdon mengapresiasi kunjungan Jokowi ke komunitas Suku Anak Dalam dan orang rimba. Langkah ini sebagai angin segar bagi keberadaan kedua suku tersebut. 

Dalam kunjungan tersebut, presiden menawarkan mereka untuk menetap di suatu wilayah. Pemerintah berjanji bakal membangun pemukiman untuk mereka. Saat itu, pemerintah mengklaim, Suku Anak Dalam menyetujui usul presiden tersebut. 

Editor: Dimas Rizky

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Presiden Menghidupkan Jabatan Wakil Panglima TNI