Share This

PBB: Minoritas Warga Turki Muslim di Xianjiang Alami Diskriminasi

Minoritas warga Turki muslim Uighur di wilayah Xinjiang, Tiongkok, menghadapi penahanan sewenang-wenang, pembatasan terhadap praktik keagamaan, dan indoktrinasi politik paksa

BERITA , INTERNASIONAL

Senin, 10 Sep 2018 16:03 WIB

Masjid Id Kah Kashgar di Kota Xinjiang Tiongkok. (Foto: Hiroki Ogawa/Wikimedia/Creative Commons CC-A-3.0)

KBR, Jakarta - Minoritas warga Turki yang sebagian besar beragama Islam Uighur di wilayah Xinjiang, Tiongkok, menghadapi penahanan sewenang-wenang, pembatasan terhadap praktik keagamaan, dan indoktrinasi politik paksa.

Dilansir dari Reuters (10/9/2018), panel hak asasi manusia PBB meyakini, pemerintah China menahan hingga 1 juta orang etnis Uighur dalam sistem rahasia "internment camps" di Xinjiang, di ujung barat China. Diyakini, mereka menjalani pendidikan politik.

Beijing membantah kamp tersebut didirikan untuk pendidikan politik. Mereka mengklaim, kamp tersebut adalah pusat pelatihan kejuruan, sebagai inisiatif pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mobilitas sosial di wilayah tersebut.

Tiongkok mengklaim wilayah Xinjiang menghadapi ancaman serius dari militan Islam yang merencanakan serangan dan menimbulkan ketegangan antara orang-orang Uighur yang menyebut wilayah itu sebagai rumah. China menganggap wilayah itu sebagai ancaman bagi perdamaian di negara yang etnis Han China.

Human Rights Watch telah mewawancarai lima bekas tahanan kamp, orang-orang Uighur dan Muslim lainnya. Mereka yang ditahan di kamp dilarang menggunakan sapaan Islam, harus belajar bahasa Mandarin Cina, dan menyanyikan lagu-lagu propaganda.

Menurut kelompok tersebut, hukuman karena menolak mengikuti instruksi di kamp bisa berarti menolak makanan, dapat dipaksa berdiri selama 24 jam, atau bahkan masuk sel isolasi.

"Pemantauan misalnya dalam praktik agama Islam. Seperti bertanya kepada orang-orang, seberapa sering mereka berdoa, dan penutupan masjid, serta kunjungan rutin oleh pejabat partai ke daerah pedesaan Xinjiang. Itu berarti bahwa Islam 'telah secara efektif dilarang'," kata peneliti Human Rights Watch yang berbasis di Hong Kong, Maya Wang.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.