Diprotes soal Full Day School, Ini Surat Jawaban Mendikbud ke Change.Org

Muhadjir mengatakan ia sudah menekankan bahwa wacana sekolah sepanjang hari itu hanyalah penambahan jam kegiatan ekstrakurikuler usai jam pelajaran pokok di sekolah.

BERITA | NASIONAL

Senin, 15 Agus 2016 16:53 WIB

Author

Agus Lukman

Diprotes soal Full Day School, Ini Surat Jawaban Mendikbud ke Change.Org

Tanggapan Mendikbud Muhadjir Effendy di laman petisi online Change.org. (Foto: Change.org)

KBR, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy akhirnya menanggapi secara resmi munculnya petisi menolak wacana full day school (sekolah sepanjang hari) lewat laman petisi online Change.org.

Ini kali pertama seorang pengambil kebijakan di Indonesia menanggapi langsung petisi terhadap dirinya lewat media yang sama di Change.org. Pengelola Change.Org pun mengirimkan respon Muhadjir itu ke alamat surat elektronik para penandatangan.

Menteri Muhadjir menulis respon pada Sabtu (13/8/2016), ketika jumlah penandatangan petisi mencapai lebih dari 41 ribu orang, yang artinya ada 41 ribu orang mengirim surat elektronik (email) ke alamat surat Muhadjir.

"Saya sangat berterimakasih kepada banyak pihak yang nyata-nyata memiliki kepedulian guna perbaikan dunia pendidikan kita. Saya juga menghargai petisi 'Tolak Pendidikan "Full Day School'/Sehari Penuh di Indonesia" yang digulirkan Sdr. Deddy Mahyarto Kresnoputro yang telah mencapai 41 ribu lebih pendukung," tulis Muhadjir Effendi dalam akun terverifikasinya di Change.Org.

Muhadjir Effendi menilai banyak orang berbeda pemahaman dan persepsi mengenai wacana full day school. Padahal, kata Muhadjir, sejak awal ia menekankan bahwa wacana sekolah sepanjang hari itu hanyalah penambahan jam kegiatan ekstrakurikuler usai jam pelajaran pokok di sekolah.

"Gagasan ini justru menghindari penambahan beban mata pelajaran di sekolah yang selama ini sangat memberatkan anak-anak kita. Yang perlu sama-sama kita pahami, gagasan semacam ini bukanlah baru. Bahkan sudah banyak institusi pendidikan maupun yayasan yang mempraktekkan model FDS ini," kata Muhadjir.

Baca: Daerah Sulit Terapkan Full Day School

Muhadjir juga mengakui adanya perbedaan geografis dan beragamnya karakter masyarakat sehingga bisa mempengaruhi efektifitas praktik sekolah sepanjang hari. Karena itu, ia menambahkan, Wakil Presiden Jusuf Kalla telah memberi arahan agar gagasan full day school---jika sudah dirumuskan secara komprehensif---diterapkan secara terbatas dahulu sebagai percontohan.

Muhadjir mengatakan pendidikan harus sejalan dan sebangun dengan kepentingan memerdekakan, memanusiakan, dan menggembirakan peserta didik. Muatan ekstrakurikuler usai jam pelajaran di sekolah diarahkan untuk membangun karakter peserta didik melalui beragam kegiatan sesuai minat dan bakat seperti olah raga, kreativitas seni, belajar sastra, latihan kepemimpinan, dan pendidikan kerohanian.

"Saya sependapat bahwa peran sekolah tidak boleh didistorsi menjadi pemasung imajinasi dan pembunuh kreativitas anak-anak kita. Semangat ini sejiwa dengan komitmen Nawacita Presiden Jokowi, proporsi terbesar muatan pendidikan di tingkat sekolah dasar dan menengah pertama adalah pembentukan karakter. Ini adalah fondasi membangun karakter manusia Indonesia yang patriotik, berintegritas, menghargai kebhinekaan, pekerja keras, dan berdaya saing tangguh," katanya.

Bekas Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu menegaskan tidak  ada pikiran untuk meminggirkan keberadaan institusi-institusi pendidikan sosial dan keagamaan maupun wadah pengembangan kreativitas seni dan budaya di luar lingkungan sekolah, termasuk Madrasah Diniyah dan lain-lain.

Baca: Full Day School Mengancam Madrasah Diniyah di Daerah

"Saya beserta jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka diri terhadap segala masukan kontruktif dan koreksi demi perbaikan sistem dan tata kelola pendidikan di Indonesia. Kami akan senantiasa mendengar, membuka mata, dan terus mengkaji gagasan yang ditawarkan sesuai pengalaman maupun contoh-contoh guna memperbaiki dan memajukan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Saya percaya, akan selalu ada solusi atau jalan tengah dalam proses dialog mencari titik temu dari satu gagasan yang diperbincangkan secara sehat. Kita semua memiliki tujuan yang sama, yaitu membenahi dunia pendidikan, jalan masa depan untuk anak-anak kita," kata Muhadjir Effendy.

Namun jawaban Muhadjir Effendy itu tidak secara jelas menyebutkan apakah akan membatalkan atau melanjutkan wacana full day school.

Editor: Rony Sitanggang
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Wabah Corona

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17