Bagikan:

Panglima TNI Heran WNI yang Jadi Sasaran Sandera Abu Sayyaf

"Yang diambil adalah dicek yang paspornya Indonesia. Ada apa ini?"

BERITA | NASIONAL

Senin, 11 Jul 2016 19:14 WIB

Panglima TNI Heran WNI yang Jadi Sasaran Sandera Abu Sayyaf

Panglima TNI Gatot Nurmanto (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, mengaku heran dengan kelompok Abu Sayyaf yang gemar menculik warga negara Indonesia untuk dimintai tebusan.  Ia menilai kemungkinan mereka melihat penanganan Indonesia terlalu persuasif.

"Yang diambil adalah dicek yang paspornya Indonesia. Ada apa ini? Itu jg saya pertanyakan. Saya katakan tadi. Mungkin kita terlalu persuasif. Mungkin alasan ekonomi atau alasan politik yang lain lagi," ujar Gatot di kantor Kemenkopolhukam, Senin(11/7/2016).

Gatot mendesak pemerintah Filipina mengizinkan pasukan TNI masuk ke wilayah mereka demi membebaskan sandera. Menurutnya, TNI sudah menyiapkan pasukan jika diperlukan. Selain itu, pasukan untuk penjagaan koridoor laut juga menurutnya sudah siap. Nantinya, setiap kapal Indonesia yang menuju perairan Malaysia mau pun Filipina, akan dikawal.

Gatot menampik jika kelompok penyandera melihat Indonesia "lembek" karena membayar uang tebusan. Ia menegaskan tidak ada uang tebusan dari negara yang dibayarkan pemerintah kepada kelompok penyandera.

"Jadi saya tekankan bahwa sesuai dengan (arahan) presiden, diutamakan keselamatan sandera, tapi tidak menghendaki adanya pembayaran. Saya tidak tahu kalau dibelakangnya perusahaan bayar," katanya lagi.

Hari ini Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memastikan ada tambahan 3 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Dalam pernyataannya ke media, Retno mengatakan penculikan terjadi di perairan Lahat Datu, Malaysia. Penculik membawa ketiga sandera itu ke perairan Tawi-Tawi, Filipina Selatan.

Saat ini kelompok Abu Sayyaf menyandera 10 Anak Buah Kapal berkewarganegaraan Indonesia. Kejadian penyanderaan kemarin merupakan yang keempat kalinya sejak bulan Maret.

Ansyaad: Mungkin Pernah Ada yang Bayar Sandera
Sementara itu pengamat terorisme Ansyaad Mbai mencurigai adanya penebusan WNI dengan uang di waktu lalu. Karena itu menurutnya, kelompok penyandera menggunakan cara yang sama untuk mendapatkan uang.

"Jadi ya mereka keenakan. Dia merasa Indonesia ini sasaran empuk," ungkapnya kepada KBR, Senin (11/7/2016).

"Walaupun pemerintah mengatakan tidak akan memberikan uang tebusan, tetapi yang pasti sandera itu dilepas setelah penyandera mendapatkan ransum itu," jelasnya.

Ansyaad menambahkan, uang tebusan telah dilarang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Larangan itu keluar dari Dewan Keamanan PBB pada 2014, karena akan menguntungkan kelompok bersenjata.

Namun, kata dia, menolak uang tebusan juga harus hati-hati. Sebab, penolakan terang-terangan bisa membuat sandera dibunuh. Hal ini pernah terjadi pada warga negara Kanada awal tahun ini. "Itu resikonya," jelasnya. 

Editor: Dimas Rizky

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Episode 5: Gen Z: Si Agen Perubahan Penentu Masa Depan

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending