Bagikan:

Indonesia Tunggu Keseriusan Filipina Tangani Kelompok Abu Sayyaf

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut, lokasi penyanderaan tiga dari tujuh sandera kelompok Abu Sayyaf telah berpindah.

BERITA | NASIONAL

Sabtu, 02 Jul 2016 14:20 WIB

Author

Ria Apriyani

Indonesia Tunggu Keseriusan Filipina Tangani Kelompok Abu Sayyaf

Ilustrasi: simulasi pembebasan sandera. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Kelompok penyandera memecah tujuh sandera WNI ke dua lokasi.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut, lokasi penyanderaan tiga dari tujuh sandera kelompok Abu Sayyaf telah berpindah. Sebelumnya, ketujuh ABK TB Charles tersebut ditempatkan di daerah Panamao, Pulau Jolo. Lantas sebagian dipindahkan ke bagian selatan Pulau Jolo, Jumat kemarin (1/7/2016).

"Perpindahannya tanggal 1. Kan 7 di Panamao. Panamao itu tempatnya pulau, Pulau Jolo. (Dipindahkan-red) ke Pulau Lapac. 4 orang masih," ujar Ryamizard usai keluar dari kantor Kemenkopolhukam, Jumat(1/7/2016).

Informasi tersebut dibenarkan oleh atasannya, Menteri Kodinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Luhut Binsar Panjaitan. Ia mengakui ada informasi mengenai pemecahan sandera menjadi dua kelompok.

"Ada kami beberapa informasi. (Panamao ke Lapac?) Itu salah satunya. Tapi kita belum ingin membuka semua," kata Luhut.


Opsi Militer Dikesampingkan

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Panjaitan pun menjelaskan, pemerintah masih berusaha bernegosiasi dengan pemerintahan baru Filipina di bawah Rodrigo Duterte.

Pemerintah Indonesia, kata dia, masih menunggu keseriusan Duterte menangani kelompok Abu Sayyaf. Saat ini, lanjut Luhut, kesepakatan yang baru dicapai antara dua negara adalah pengamanan jalur ekonomi.

"Menyelesaikan kerjasama ke depan mengenai pengamanan jalur ekonomi antara Indonesia-Filipina. Sekarang kita boleh naruh orang dalam kapal," imbuh Luhut.

Meski begitu, ia menegaskan bakal mengesampingkan opsi militer dalam upaya pembebasan sandera. Ia pun memastikan, tak ada satupun pasukan Indoensia di Kawasan Filipina.

Sebelumnya, pemerintahan Filipina sempat menyatakan bakal mengizinkan pasukan Indonesia masuk ke Filipina apabila penyanderaan kembali terulang. Namun Indonesia, kata Luhut, masih mengesampingkan opsi ini lantaran pihaknya perlu mempertimbangkan sejumlah risiko apabila ingin menempuh opsi militer.

"Kalau diizinkan kita mesti melakukan assesment detail. Karena punya dampak macam-macam. Kita belum berpikir ke situ," pungkas Luhut.


Editor: Nurika Manan

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Episode 5: Gen Z: Si Agen Perubahan Penentu Masa Depan

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11