Keluarga Angeline di Banyuwangi Minta Pelaku Dihukum Berat

Keluarga besar Angeline bocah delapan tahun korban pembunuhan di Bali, yang berada di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, meminta pelaku pembunuhan dihukum mati.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 12 Jun 2015 12:38 WIB

Author

Hermawan Arifianto

Keluarga Angeline di Banyuwangi Minta Pelaku Dihukum Berat

Aksi mencari Angeline. ANTARA FOTO

KBR, Banyuwangi - Keluarga besar Angeline bocah delapan tahun korban pembunuhan di Bali, yang berada di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, meminta pelaku pembunuhan dihukum mati.

Salamah kakak ipar Hamidah, ibu kandung Angeline mengatakan, pihak keluarga di Banyuwangi meminta pelaku pembunuhan Angeline bisa dihukum maksimal sesuai perbuatan sadis yang dilakukan terhadap bocah delapan tahun tersebut.

Menurut Salamah, keluarga di Banyuwangi baru mengetahui kabar tentang Angeline ketika santer dikabarkan jika bocah kelas II SD ini hilang. Kabar itu diperkuat setelah Misya nenek kandung Angeline, didatangi enam orang polisi yang mengaku dari Polda Bali. Akan tetapi, pihak keluarga baru mengetahui kabar duka tentang tragisnya pembunuhan Angeline dari pemberitaan media televisi.

“Dengan kejadian ini harapan keluarga pelakukanya yang berbuat itu supaya diadili yang setegas-tegasnya. Kan merasa gimana, anak disiksa jadi mohon diadili yang seberat-beratnya. Kalau bisa dihukum mati,” kata Salamah.

Angeline adalah anak kedua Hamidah dan Rosidiq. Hamidah berasal dari Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur.

Hamidah anak ketujuh dari sembilan bersaudara dari pasangan Misyah dan Senimo. Hamidah sudah meninggalkan Banyuwangi untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Bali sejak berusia 15 tahun.

Kemiskinan yang membelit keluarga Misyah membuat Hamidah hanya bisa sekolah hingga kelas 3 SD dan bekerja di usia belia.
 
Sebelumnya, Kepolisian Daerah Bali akhirnya menemukan bocah perempuan asal Bali, Angeline, delapan tahun, yang hilang sejak Mei 2015. Angeline ditemukan dalam keadaan tewas dan dikubur di rumah ibu angkatnya, Margareth.




Editor: Quinawaty Pasaribu 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Lambannya Pencairan Bansos di masa PPKM Darurat

Kabar Baru Jam 8

Platform Para Pekerja untuk Saling Berbagi

Kabar Baru Jam 10