Balikpapan Akan Atur Etika Pakaian Perempuan di Tempat Umum

Agar tidak terlalu minim sehingga menarik perhatian kaum pria.

, BERITA , NUSANTARA

Selasa, 21 Mei 2019 11:45 WIB

Author

Teddy Rumengan

Balikpapan Akan Atur Etika Pakaian Perempuan di Tempat Umum

Model memperagakan busana batik muslim di kereta bandara yang berjalan dari Stasiun BNI City menuju Stasiun Bandara Soekarno Hatta, saat Fashion show kerjasama BAZNAS dengan PT Railink, di Tangerang, Banten, 2/4/2019. (Foto: ANTARA/Muhammad Iqbal)

KBR, Balikpapan- Tingginya angka kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak, yang terus meningkat setiap tahunnya di Balikpapan, Kalimantan Timur, memicu keprihatinan kalangan anggota dewan setempat. Ketua Komisi IV DPRD Kota Balikpapan, Mieke Henny menyarankan, untuk menekan itu saat ini parlemen sedang membahas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Ketahanan Keluarga.

Menurut Mieke, dalam Raperda tersebut, salah satu poin yang sedang dibahas yaitu mengatur tata cara dan etika berpakaian bagi wanita, khususnya di tempat-tempat umum. Tujuannya agar tidak terlalu minim sehingga menarik perhatian kaum pria.

Dilanjutkan Mieke, meski Raperda Ketahanan Keluarga memasukkan klausul tata cara dan etika berpakaian, namun tidak berarti akan ada pelarangan sepenuhnya bagi perempuan untuk berpakaian terlalu minim. Yang akan diatur, hanya tentang berpakaian dengan tata cara dan etika yang memenuhi batas kesopanan, khususnya di tempat-tempat umum.

“Nah, dampak-dampak ini yang mau kita tekan, khususnya melalui Peraturan Daerah atau regulasi ini. Termasuk dalam klausulnya menggunakan busana itu sedikit sopan, tapi bukan kita melarang hanya saja di tempat-tempat tertentu yang akses umumnya banyak itu, kita tekan untuk tidak menggunakan busana-busana seperti itu,” ujar legislator dari Partai Demokrat itu, Selasa (21/05).

Naik Terus, Kekerasan dan Pelecehan Seksual

Data Pemerintah Kota Balikpapan menyebutkan, dari rentang 2015 hingga 2018, angka kekerasan dan pelecehan seksual pada perempuan dan anak terus meningkat.  Pada 2015 ada 25 kasus, lalu 2016 meningkat menjadi 28 kasus. Kemudian, 2017 meningkat lagi, jadi 35 kasus, dan pada 2018 meningkat jadi 35 kasus. Tahun ini hingga Mei, sudah ada sembilan kasus.

Editor: Fadli Gaper 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Eps.6: Kuliah di Perancis, Cerita dari Dhafi Iskandar

Insiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarkat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak