Hari Ketiga, Panitia ALF 2016 Terima Izin Penyelenggaraan

"Alasan mereka pas hari pertama menghalangi festival ini karena surat izin yang sebelumnya dikeluarkan Polda, seharusnya itu dari Mabes Polri. Jadi mereka sudah tidak menyinggung alasan 65 dan LGBT,"

BERITA | NASIONAL

Sabtu, 07 Mei 2016 15:15 WIB

Author

Vitri Angreni

Hari Ketiga, Panitia ALF 2016 Terima Izin Penyelenggaraan

Surat Izin penyelenggaraan ASEAN Literary Festival 2016. (Foto: KBR/ Asrul Dwi)

KBR, Jakarta - Kepolisian akhirnya mengeluarkan surat izin penyelenggaraan ASEAN Literary Festival (ALF) 2016. Surat yang diterbitkan Badan Intelejen Keamanan Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri) baru diterima panitia pada hari ketiga, Sabtu (7/5).

Direktur ALF Abdul Khalik mengatakan, surat bertandatangan 4 Mei tersebut diserahkan oleh perwakilan dari Polres Jakarta Pusat. "Suratnya dari Mabes Polri. Diserahkan oleh perwakilan, dari Kasat Intel Polres Jakarta Pusat yang mewakili Mabes Polri," ujarnya kepada KBR, Sabtu (7/5).

Polisi, kata dia beralasan, pelarangan pada hari pertama helatan ALF 2016 hanya salah paham belaka. Tak diterbitkannya izin penyelenggaraan, menurut polisi, bukan karena kekhawatiran terhadap pembahasan isu seputar tragedi 1965/1966 ataupun terkait kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer (LGBTIQ). Melainkan lantaran gelaran ini mendatangkan narasumber dari luar negeri.

"Alasan mereka pas hari pertama menghalangi festival ini berlanjut karena surat izin yang sebelumnya mereka keluarkan itu dari Polda, dan seharusnya itu dari Mabes Polri. Jadi mereka sudah tidak menyinggung lagi masalah LGBT dan 65," imbuhnya.

Baca juga: Panitia ALF Dipaksa Batalkan Acara soal Papua, '65 dan LBGT

Padahal, Abdul Khalik melanjutkan, panitia festival sastra ASEAN selalu berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri perihal pilihan narasumber. "Sudah koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, karena kan yang berurusan dengan asing, luar negeri kan biasanya Kemenlu. Kami kerjasama setiap tahun," katanya.

Lagi pula, kata dia, tahun lalu gelaran ini juga menghadirkan narasumber dari luar negeri namun panitia hanya perlu mengantongi izin dari kepolisian setempat. "Kenapa mereka mempersoalkan festival ini, karena melibatkan orang asing dalam festival. Dengan begitu, maka kata mereka biasanya yang mengeluarkan dari Mabes. (Memang tahun lalu juga izin Mabes?) Tahun lalu itu kami cuma memberitahukan ke Polsek dan Polres itu tidak apa-apa. Oke saja, " jelas Abdul.

Baca juga: Marak Pelarangan, Kepala Bekraf Ajak Polisi Berdialog

Tahun ini adalah kali ketiga festival sastra ASEAN ini terselenggara. Pada 2014 misalnya, panitia tercatat mendatangkan sejumlah nama dari luar negeri. Salah satunya Na Ye, penulis dari Tiongkok ini selain membikin banyak puisi juga menjabat sebagai wakil ketua Gansu Provincial Writers Association. Saat itu dia berbicara untuk tema "Ethnicity, Relegion and Literature". Tak hanya dari Tiongkok, sastrawan Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Filipina dan Myanmar juga turut hadir.

Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 14

Kenali dan Obati Katarak Sejak Dini

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11