Stok Bulog Melimpah, DPR RI Tolak Impor Beras

Saat ini penyerapan beras dan gabah milik petani masih terus dikebut oleh Perum Bulog

BERITA | NUSANTARA

Rabu, 20 Mei 2015 13:41 WIB

Author

Muji Lestari

Anggota Komisi VI DPR RI Surya Alam saat melakukan sidak di Gudang Bulog Tunggorono Jombang. Foto: K

Anggota Komisi VI DPR RI Surya Alam saat melakukan sidak di Gudang Bulog Tunggorono Jombang. Foto: KBR/Muji Lestari

KBR, Jombang - Rencana Pemerintah membuka pintu impor beras menuai kecaman dari kalangan Dewan Perwakilan Rakyat RI. Rencana itu dianggap terlalu dini dan kontradiktif dengan rencana Pemerintah yang akan melakukan swasembada pangan. Apalagi hingga saat ini penyerapan beras dan gabah milik petani masih terus dikebut oleh Perum Bulog.

Saat melakukan sidak di Gudang Bulog, anggota Komisi VI DPR RI, Surya Alam, menemukan stok yang melimpah. Meski begitu kata Alam upaya penyerapan beras oleh Bulog menjadi tidak maksimal akibat penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang baru diteken Presiden Joko Widodo pada akhir maret.

Alam menilai Bulog kehilangan momentum selama hampir dua bulan akibat lambatnya menetapkan HPP. DPR RI mendesak Pemerintah lebih memaksimalkan penyerapan beras milik petani dan menolak impor beras. 

“Kita kan pasti pertama menolak sebelum ada kajian berapa stok sebenarnya apakah sudah urgen stok itu. kemudian juga penugasan penyerapan ini swasebada itu kan nggak main-main, artinya kan cukup produktivitas cukup, stok cukup ini ya di kaji dulu, jangan buru-buru mungkin nggak tepat kalau pagi-pagi begini sudah ngomongin impor.” Kata Surya Alam, Rabu (20/5/2015). 

Sementara, pihak Bulog Subdivre Surabaya Selatan yang membawahi Kabupaten Mojokerto dan Jombang tetap optimis memenuhi target penyerapan sebesar 70 ribu ton. Kepala Sub Divre Bulog Surabaya Selatan, Budi Ganefero, mengatakan, hingga saat ini pihak Bulog setempat sudah mampu menyerap 37 ribu ton atau setara 52 persen dari target. Dengan stok melimpah ini, dia yakin mampu mencukupi kebutuhan beras di wilayah tersebut hingga 15 bulan kedepan.

“kita sudah 52 persen untuk target satu tahun, kalau untuk total satu tahun kita kan hanya membutuhkan 32 ribu ton, jadi kalau dibanding stok yang ada kita sudah mencukupi sampai dengan 15 bulan kedepan.” kata Budi.

Budi menjelaskan, pihak Bulog akan lebih mengintensifkan penyerapan dengan menggandeng Gapoktan dan menurunkan Satgas jaringan semut untuk melakukan pembelian di penggilingan-penggilingan kecil di wilayah tersebut.

Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Inisiatif Daur Pangan di Masa Pandemi

Mama 'AW': Menerobos Semak Berduri

Kabar Baru Jam 8

Waspada Peningkatan Kekerasan terhadap Perempuan di Dunia Siber