Diprotes Soal Dualisme Partai, Menkumham: Saya Cuma Tumbal

"Saya berpijak pada ketentuan perundang-undangan partai politik",ujar Yasonna

BERITA | NASIONAL

Senin, 04 Mei 2015 18:46 WIB

Author

Aisyah Khairunnisa

Menteri Hukum dan Ham, Yasonna Laoly. Foto: Antara

Menteri Hukum dan Ham, Yasonna Laoly. Foto: Antara

KBR, Jakarta – Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menyebut dirinya hanya sebagai tumbal dalam persoalan dualisme kepemimpinan Partai Golkar dan PPP. Sebelumnya dalam rapat koordinasi persiapan pemilihan kepala daerah serentak hari ini, sejumlah kader parpol di daerah memprotes keputusan Yasonna yang mengesahkan salah satu kubu dari Golkar dan PPP untuk memimpin. Yasonna menjawab bahwa Golkar dan PPP masing-masing belum juga sekapat untuk islah. Sehingga, seharusnya para kader menyalahkan pimpinan partai yang berkonflik, bukan dirinya.

 “Kalau sudah namanya berkelahi, suami istri pun kalau dua-duanya berkelahi, mertua datangpun gak beres itu persoalan. Kemanapun saya ambil keputusan pasti saya dikatakan tidak fair. Tapi saya berpijak pada ketentuan perundang-undangan partai politik. Yang saya khawatir, kader-kader di bawah ini marahnya ke saya, bukan ke atas (partai) itu. Saya cuma tumbal saja. Tapi sebagai menteri saya harus ambil keputusan itu,” kata Yasonna di Balai Kartini, Senin (4/3/2015).

 Yasonna menambahkan, ia mensahkan kepemimpinan PPP kubu Romahurmuziy karena ada 2/3 partai yang hadir dalam kongres Surabaya itu. Selepas Romahurmuziy mendaftarkan kepengurusan hasil kongres, menurut undang-undang Menkumham harus mengesahkan dalam jangka waktu 7 hari. Sedangkan untuk konflik Golkar, Yasonna menegaskan bahwa tidak ada masalah yuridis dalam keputusannya mengesahkan kubu Agung Laksono. Menurutnya keputusan dari Mahkamah Partai tersebut sudah ia konsultasikan dengan sejumlah hakim agung dan konstitusi sebelum mengeluarkan keputusan.

Editor: Malika 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Ada yang Tahu Sosok Alfred Russel Wallace?

Terkait Aksi Bom Bunuh Diri di Markas Polisi

Kabar Baru Jam 15

Pemprov Jatim Minta Masyarakat Waspadai Dugaan Penipuan Seleksi CPNS