Bagikan:

Menteri Susi Lepas Kapal Pengawas Perairan Natuna

Empat kapal ini akan menjaga perairan yang selama ini belum terjangkau, seperti perairan Natuna. Natuna dianggap Tiongkok sebagai perairan tradisional

BERITA | NASIONAL

Jumat, 08 Apr 2016 11:30 WIB

Author

Ria Apriyani

Menteri Susi Lepas Kapal Pengawas Perairan Natuna

Empat kapal pengawas perikanan KKP bersandar ermaga Komando Lintas Laut Militer Tanjung Priok, Jumat(8/4/2016). Foto: Ria Apriyani

KBR, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menambah 4 armada kapal pengawas perikanan di perairan rawan Indonesia. Penambahan kapal ini bertujuan untuk memberantas illegal fishing. "Kita ingin menjamin kedaulatan ekonomi negara kita. Masyarakat internasional boleh melewati perairan kita, boleh menjadikan kita jalur pelayaran. Tetapi tidak untuk mencuri ikan," ungkap Susi di dermaga Komando Lintas Laut Militer Tanjung Priok, Jumat, 8 April 2016.

Menurut Susi, empat kapal ini akan menjaga perairan yang selama ini belum terjangkau, seperti perairan Natuna, Arafuru dan Laut Sulawesi. Titik ini dianggap rawan dimasuki kapal asing. Terutama untuk Natuna, menurut Susi, saat ini sedang gencar diklaim Tiongkok sebagai perairan tradisional mereka (traditional fishing spot), sehingga Tiongkok mengklaim berhak tangkap ikan di sana. "Wilayah laut kita buka traditional fishing spot negara manapun," tegasnya.

Empat kapal sepanjang 60 meter, lebar 8,2 meter dan tinggi 4,5 meter ini berbiaya 58 juta USD atau setara Rp 761 miliar lebih. Kapal ini mampu berlayar dengan kecepatan 25 knot.

Meski ditambah 4 kapal, Nahkoda ORCA002, Agus Tri Wibowo mengatakan jumlah kapal pengawas perikanan Indonesia hingga saat ini minim. Pasalnya Indonesia adalah negara dengan wilayah perairan terluas kedua di dunia. Sedangkan jumlah armada yang dimiliki saat ini, menurut Agus, total hanya 28 kapal.  "Ini belum cukup. Tetapi kita masih proses. Idealnya 100-an, tapi tahun depan rencana akan tambah lagi," ungkapnya.


Editor: Damar Fery Ardiyan 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Menyongsong Terbitnya Rupiah Digital

Episode 4: Relasi Kuasa: Akar Kekerasan & Pengaturannya Dalam UU TPKS

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Mendorong Vaksinasi Booster untuk Antisipasi Kenaikan Kasus Covid-19 di Akhir Tahun

Most Popular / Trending