[SAGA] Menilik Aksi Perempuan Penyelamat Taman Nasional Kerinci Seblat

“Buat perempuan Indonesia, mari berjuang bersama untuk lingkungan dengan memanfaatkan lingkungan secara bijak.”

Jumat, 20 Okt 2017 17:30 WIB

Komunitas Perempuan Penyelamat Situs Warisan Dunia (KPPSWD). Foto: Muhammad Antoni/KBR.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Bengkulu - Taman Nasional Kerinci Seblat adalah taman nasional terbesar di Sumatera. Terbentang di empat provinsi; Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan.

Dengan luas 1,3 juta hektar, ia dinobatkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2004. Pasalnya, di sini menyimpan kekayaan flora dan fauna. Sekitar empat ribu spesies tumbuhan hidup, termasuk Rafflesia Arnoldi, juga Titan Arum –bunga tertinggi di dunia.

Sedangkan fauna yang mendiami taman nasional, antara lain Harimau Sumatra, Badak Sumatra, Gajah Sumatera, Macam Dahan, Tapir Melayu, Beruang Madu, serta 370 spesies burung.

Tapi, kondisi Taman Nasional Kerinci Seblat kian kritis akibat pembalakan liar, alih fungsi lahan, sampai perburuan satwa. Itu mengapa pada Maret lalu, pemerintah menandatangani perjanjian dengan empat kapolda di Sumatera demi menyelamatkan si taman nasional.

Sementara di Bengkulu, sepuluh perempuan yang tergabung dalam Komunitas Perempuan Penyelamat Situs Warisan Dunia (KPPSWD) juga berusaha membentengi taman nasional. Salah satu anggota Intan Yones Astika, bercerita langkah ini ditempuh sebab Kerinci Seblat punya peranan penting.

“Mengapa harus TNKS? Karena kami melihat situs warisan dunia yang ada di Rejang Lebong ini semakin terancam keberadaannya, sedangkan hutan TNKS secara tidak langsung memberikan peran penting bagi kehidupan masyarakat,” tutur Intan.

Sepuluh perempuan penyelamat situs warisan dunia ini berlatar pendidikan mahasiswa. Mulanya, mereka disatukan oleh ketertarikan terhadap pelestarian lingkungan. Belakangan pula, gagasan ini lahir dari kegiatan lingkungan yang digelar Balai Taman Nasional Kerinci Seblat Pengelolaan Wilayah III Bengkulu-Sumsel.

Di komunitas tersebut, para perempuan ini bakal menyebarkan informasi tentang betapa bernilainya hutan. Anggota lain, Tantri Maya Sri –mahasiswi Politeknik Raflesia.

“Kami ingin memberikan pengertian kepada masyarakat pentingnya lingkungan dan memengaruhi kebijakan pemerintah soal lingkungan,” kata Tantri.

Terbentuk pada 20 Oktober 2016, Komunitas Perempuan Penyelamat Situs Warisan Dunia (KPPSWD) pernah melakoni aksi demonstrasi yang bertepatan dengan International Womens Day. Dimana mereka menyuarakan hak-hak perempuan atas lingkungan.

Sebab, kerusakan lingkungan berdampak pada kaum perempuan yang bersentuhan langsung. Semisal, ketika kian sulit mencari tumbuh-tumbuhan seperti Pakis dan Kecombrang, untuk dikonsumsi. Padahal dulu, tumbuhan semacam ini terhampar di pinggiran kawasan hutan.

Lalu apa penyebabnya? Itu semua karena maraknya alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kopi yang terlarang bagi warga.

Sialnya, persoalan tersebut tak pernah diungkap. Karena itulah, mereka bersuara lewat tulisan yang diterbitkan dalam bentuk pamflet bernama Jendela Perempuan Desa. Tapi rupanya tak hanya tanaman yang dikonsumsi yang kian langka, tanaman untuk obat seperti daun Sirih, juga begitu. Perambahan liar membuat tanaman obat –yang tumbuh menjalar di pohon-pohon, ikut ditebas.

Lisnawati, warga Desa Pal VIII, Kecamata Bermani Ulu Raya, misalnya mengeluhkan susahnya mendapat tanaman yang biasa dimakan. Tak hanya itu, hasil pertanian juga banyak terserang hama akibat perubahan cuaca yang tak menentu.

“Seperti Pakis, agak susah sekarang. Kecombrang juga susah, karena banyak sekali orang yang keluar masuk ke dalam hutan,” ujar Lisnawati.

Begitu pula dengan Prisnawati. Kata dia, hama di ladang pertanian mereka jadi masalah baru. “Kami lebih banyak bertani kopi, tapi saat ini permasalahnnya kopi seperti terserang jamur dan mudah mati,” sambung Prisna.

Ade Purnama Dewi, anggota Komunitas Perempuan Penyelamat Situs Warisan Dunia, mengatakan pihaknya kerap mendampingi ibu-ibu desa agar tak sembarang memanfaatkan hutan.

Setahun bergerak, mereka berharap pemda turut berjuang bersama. Tantri Maya Sari menyebut pemda bisa menyosialisasikan kepada masyarakat menjaga lingkungan termasuk taman nasional.

“Harapan kami kepada pemerintah daerah bagaimana ikut menyosialisasikan ke masyarakat, sadar akan lingkungan,” harap Tantri.

Harapan lain, makin banyak perempuan yang berkecimpung melindungi alam. “Buat perempuan Indonesia, mari berjuang bersama untuk lingkungan dengan memanfaatkan lingkungan secara bijak,” tutup Intan.

Editor: Quinawaty

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi