Munir berlipat ganda. (Citra/KBR)

Munir berlipat ganda. (Citra/KBR)

KBR - Satu dekade Suciwati menanti, pengusutan kasus pembunuhan suaminya Munir Said Thalib tak juga tuntas. Selama dua kurun masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono itu pula istri Munir kecewa. Kasus pembunuhan pejuang HAM itu seolah berhenti saat seorang pilot bernama Polycarpus ditetapkan sebagai tersangka. Dalang pembunuhan masih melenggang bebas, bersama generasi muda yang lupa pada tragedi itu. Kini harapan juga tertuju pada pemerintahan baru.

“Bapak presiden SBY, apa kabar di hari-harin akhir pemerintahan anda? masihkah memegang janji untuk menguingkap pembunuh suami saya Munir? 10 tahun lalu anda berkata kasus Munir adalah test of our history, ujian sejarah kita, sejarah bangsa republik Indonesia.”

Yang menyatakan itu yakni Suciwati, istri Munir Said Thalib, seorang aktivis HAM yang dibunuh sepuluh tahun silam. Sudah satu dekade Suciwati menagih janji pemerintah menyelesaikan kasus pembunuhan suaminya, selama itu pula dia harus kecewa. Meski demikian, perempuan beranak dua itu tak jera mendesak pemerintah untuk menuntaskan kasus Munir yang tewas di racun. “Ini pesan kepada pembunuhnya. bahwa boleh saja dia telah membunuh munir tapi orang baik tetap saja ada. jangan diharap dengan menghilangkan Munir perlawanannya hilang.”

Sepuluh tahun sepeninggal suaminya, kesedihan masih merundung Suciwati. Paras wajahnya sontak berubah saat ditanya soal kasus suaminya. Suciwati menahan amarah, juga sedih karena otak pembunuh sang suami masih berkeliaran bebas. Sementara masyarakat terutama kalangan muda perlahan lupa terhadap kasus suaminya.

“Ada beberapa yang tidak tahu, ada yang sok tahu, macam-macam lah. makanya kita bikin Omah Munir. Salah satunya untuk menurunkan nilai-nilai yang diajarkan almarhum ke masyarakat banyak supaya tidak jadi eksklusif untuk para aktivis saja. apa saja yang dilakukan dia, siapa itu Munir, saya pikir itulah salah satu cara untuk mengenalkan Munir ke masyarakat.”

Budayawan Goenawan Mohamad juga sadar dengan hal ini. Menurut dia hanya sedikit warga Indonesia yang mengingat Munir. Dengan situasi semacam itu dia memperingatkan kalau Indonesia harus bersiap dengan kehadiran generasi baru yang tak mau lagi bersinggungan dengan masa lalu. “Tapi dengan begitu kita harus mengatakan, ini kejahatan yang sangat besar yang dilakukan kepada orang baik yang telah berjasa kepada bangsa. Saya ulangi berkali-kali karena orang hanya berfikir pada pengadilan, penghukuman, tapi lebih dari itu adalah penyesalan. Mereka yang terlibat penyesalan buat kita semua yang membiarkan mereka terlibat,” terang Budayawan Goenawan Muhammad.

Menurutnya, meski sudah terbengkalai selama satu dasawarsa, kasus pembunuhan Munir tetap perlu diperingati. Tujuannya tak lain untuk memunculkan nilai benar dan juga salah. Sebab sebagian orang juga banyak yang berpendapat kalau Munir dibunuh untuk keselamatan bangsa. “Prabowo kan bilang begitu juga. tapi meskipun kita akui sebuah negara kadang ditegakkan lewat kekerasan, tapi harus ada nilai yang mengatakan kesewenang-wenangan seperti itu harus dikutuk.”

Hal itu pula yang mendorong pegiat media Tosca Santoso terlibat dalam peringatan sepuluh tahun kematian Munir di Kedai Tempo, Utan Kayu Jakarta. Pada kesempatan itu, dia menjelaskan kenapa tema peringatan pembunuhan Munir, menyebut khusus bahwa “Munir Ada dan Berlipat Ganda”. “Ini diciptakan teman saya dari Omah Munir. Jadi meskipun dari segi hukum belum ada kemajuan, pembunuhnya belum terbongkar, kesadaran untuk memperjuangkan keadilan justru lebih kuat. Buktinya sore ini, 10 tahun setelah Munir mati kita masih berkumpul di sini.”

Pemerintahan segera berganti, bila dalam satu bulan ini SBY tak dapat membongkar kasus kematian Munir Said Thalib, maka janji manisnya kepada Suciwati sepuluh tahun silam gagal ia penuhi. Dia juga sangsi kalau pemerintahan baru Joko Widodo dan Jusuf Kalla bisa menuntaskan tuntutannya. “Tapi apakah berani ketika para pelakunya ada di sekitar dia? Itu pertanyaan yang akan kita berikan terus menerus ke presiden kita sekarang. Dan pengungkapannya terus kita dorong. Saya sih merasa selama sistem peradilannya masih sama tidak akan berubah. Siapapun presidennya,” tegas Suciwati di Kedai Tempo Jakarta (3/4).

Apalagi di kubu presiden terpilih ada bekas Panglima TNI Wiranto, bekas jenderal Soetoyoso, Muhdi Purwopranjono serta Hendroproyono bekas Komandan Garuda Hitam dalam operasi militer di Talangsari Lampung. “Saya pikir tantangannya apakah presidennya berani? apakah bener tidak disetir? apakah memang independen? kok sedikit-sedikit ketua umumnya itu beri pertanyaan. Itu Puan itu apa sih jabatannya? presiden partai? Apa presiden Indonesia. Saya pikir ke depan kalau memang dia mau kita percaya dia tidak bisa disetir, kita lihat apakah ketua umumnya nempel terus.”

Muchdi PR pernah ditahan dengan dugaan sebagai otak pembunuhan Munir. Tapi Muchdi justru divonis bebas. Meski tak berharap banyak, Suciwati mengaku akan terus menagih penyelesaian kasus pembunuhan suaminya ke pemerintahan baru nanti. Dia berharap pemerintahan Joko Widodo, juga menagih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk pelaksanaan Keputusan Presiden mengenai kasus Munir. Acuan desakan Suciwati lainnya yakni rekomendasi Tim Pencari Fakta (TPF) terkait kasus suaminya. “Kita akan mendorong itu ke presiden baru. Sekalian kita lihat tindakan hukum apakah akan jadi gugatan untuk SBY atau dilanjutkan ke pemerintahan sebelumnya.”

Dua kali memimpin bangsa ini, SBY gagal lulus dari ujian sejarah bangsa. Kini beban itu berpindah ke pundak presiden baru, Joko Widodo. Suciwati dan seluruh pegiat HAM tentu tak berharap sang presiden anyar ikut gagal seperti pendahulunya.

Baca lanjutan ceritanya: Satu Dasawarsa, Munir Tetap Ada dan Berlipat Ganda (2)

Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!