Dok: Fajar Merah, putra penyair Wiji Thukul.

Dok: Fajar Merah, putra penyair Wiji Thukul.

KBR - Enam belas tahun sudah penyair Wiji Thukul tak pulang ke rumah. Selama itu pula istri Wiji berjuang untuk menafkahi kedua anaknya. Fajar Merah, anak kedua Wiji Thukul kini giat menyanyikan puisi sang ayah. Wiji Thukul masih raib, dihilangkan secara paksa oleh pemerintahan Soeharto.

“Saya akan membawakan lagu terakhir dari Wiji Tukul yang sampai saat ini juga belum diketahui kejelasannya, dia hidup atau mati.”

“Dan kita hanya butuh kepastian.”

“Ini puisi yang saya lagukan karena hanya dengan kata aku bisa menyentuh beliau. Dan semoga segera diselesaikan kasus penghilangan paksa ini.”

Fajar Merah, pria kurus berambut ikal itu memetik gitar mendendangkan puisi dengan mata terpejam. Bibirnya melafalkan bait-bait puisi hasil goresan pena ayahnya, Wiji Thukul  aktivis penyair yang dihilangkan paksa pada medio 1998.

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi….

Karya Wiji Thukul di Solo pada periode 1987 – 1988

“Sejak kecil aku tahunya bapak hilang. Gak tahu bapak itu hilang karena kenapa. Dan akhirnya saya jadi penasaran sendiri. Jadi pertanyaan lalu aku cari informasi dari buku-buku di rumah, dari kakak,” kisah Fajar Merah kepada jurnalis KBR di Jakarta.

Kapan persisnya Wiji Thukul hilang, keluarga tak tahu persis. Sebab sejak 1996, pria kelahiran Solo itu pamit untuk bersembunyi dari jeratan aparat. Berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Sementara Fajar yang kala itu masih balita tak punya memori bersama Wiji Thukul. “Mungkin ketemu tapi kan waktu ditinggal itu aku umur empat tahun. Dan aku tidak punya memori dengan dia waktu itu.”

Fajar di masa kecil jenuh dengan cerita penculikan ayahnya, penyair yang sempat aktif dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker). “Kenapa saya tidak ditemukan sama bapak itu memang kesalahan Tuhan. Saat itu aku sempat menghujat Tuhan karena tidak menjadikan aku dan bapakku menjadi sebuah keluarga yang utuh.”

Namun saat beranjak dewasa ia mulai membuka lembar demi lembar berkas puisi yang ditulis oleh sang ayah. Dari situ dia mencari tahu apa yang jadi sebab ayahnya dihilangkan secara paksa. “Tapi itu karena aku gak tahu. Dan akhirnya aku mencari tahu siapa itu bapak. Dan ternyata bapak hilang karena puisi yang ditulisnya. Dan saya pikir ini tidak masuk akal. Dan membuat saya merasa marah dengan pemerintahan saat itu,” pungkas Fajar.

Wiji Thukul diculik oleh Tim Mawar. Sebuah tim kecil di dalam Kopassus. Thukul beserta 12 aktivis pro-demokrasi lain diculik dengan dalih “membahayakan negara”. Jenderal-jenderal baret merah menganggap puisi Wiji Thukul menghasut para aktivis untuk melawan pemerintah Orde Baru. Pemerintahan Soeharto.

Fajar terus menyelami isi karya Wiji Thukul. Dia kagum bercampur haru membaca goresan tangan Wiji Thukul yang jauh dari istilah dan perumpanaan. Menurut Fajar puisi ayahnya apa adanya menggambarkan situasi sosial politik di Indonesia di era pemerintahan Soeharto. “Dia langsung ngomong tentang buruh, penindasan, tanpa basa-basi dengan memanipulasi dengan kata-kata yang lebih indah.”

Selain rajin menumpahkan kegelisahannya lewat puisi, Wiji Thukul juga kerap berdemo karena ketidakadilan. Misalnya demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil pada 1992. Tapi, Wiji Thukul belum juga kembali. Pada pertengahan 2000, sang istri Siti Dyah Sujirah atau yang akrab dipanggil Sipon melaporkan kehilangannya ke Komisi Orang Hilang KontraS. Menurut Fajar, saat itu ibunya yang bekerja sebagai buruh harus bekerja ekstra untuk bisa menghidupi dirinya dan dan kakaknya Fitri Nganti Wani. Akhirnya Sipon sakit.

“Dampaknya sangat besar karena sudah sampai menyerang kondisi psikis ibu. Ibu punya semacam bipolar disorder, dan apa yang diserang memang jiwanya yang diserang. Jadi ibu agak bermasalah. Kadang merasa sendiri tiap malam bahkan mungkin dari pagi sampai malam nangis terus. Baru dua tahun kemarin. Mungkin karena ibu kebanyakan pikiran.”

Sipon kini membuka usaha binatu di rumah yang dulu ditinggali bersama Thukul di Solo. Berniat membuka butik Sipon mencoba menggadai rumah demi mendapat kucuran utang. Namun permintaan itu ditolak lantaran status keberadaan Thukul yang belum jelas.”Mereka selalu memberi pertanyaan pada kita (aparat kelurahan-red); “ya kita butuh keterangan kalau bapak mati, kita minta surat kematian. Kalau bapak sama ibu cerai kita minta surat cerai”. Tapi kan gak bisa dijelaskan dengan dua surat itu.”

Ibunya, Sipon, hanya memegang surat yang diberikan Komnas HAM. Surat itu menyatakan bahwa Wiji Thukul adalah korban penculikan dan penghilangan ‘98. Serta keterangan bahwa negara masih berusaha mencarinya. Lagi, surat itu juga tak laku untuk mengajukan pinjaman kredit di bank.”Nggak, gak membantu juga sih.”

Menghadapi jalan buntu, Sipon terpaksa harus “membunuh” Wiji Thukul. Ibu Fajar, akhirnya mengurus surat kematian suaminya agar bisa membuka usaha dan melanjutkan hidup. Melihat kondisi keluarganya seperti itu, Fajar meminta presiden yang akan terpilih nanti bisa menyelesaikan kasusnya.

“Minta untuk segera menuntaskan kasus penghilangan paksa dan menangkap pelakunya dan kami ingin kepastian dimana 13 orang yang belum diketemukan itu. Kita gak mau tahu dalam keadaan hidup atau mati atau mereka ada dimana. Yang kita butuhkan hanya kepastian, dia hidup atau mati. Saya gak mau ibu saya, gak cuma ibu saya, keluarga saya terus-terusan seperti ini mengalami pertanyaan yang terus menghantui kita setiap malam, setiap hari,” pungkas Fajar menutup kisah mengenai keluarganya.

Selain Thukul, ada belasan orang yang turut dihilangkan paksa pada 1998 lalu.

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

Solo – 1987 (Wiji Thukul)

Editor: Irvan Imamsyah  

(Saga ini memenangkan Penghargaan Adinegoro 2014, diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada Hari Pers Nasional ke-69 pada 9 Februari 2015 di Batam) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!