Kholishuddin bersama anaknya dan Nasir Abbas (Foto: KBR)

Kholishuddin bersama anaknya dan Nasir Abbas (Foto: KBR)

Medio Desember tahun 2000 silam, bom malam natal meledak di enam gereja di Jakarta. Teror yang ditebar sebenarnya tak sesuai harapan, karena rencananya bom diledakan di sejumlah kota secara serentak. Salah satunya rencana peledakan bom di salah satu gereja di Pangandaran. Jurnalis KBR, Aisyah Khairunnisa menemui pelaku bom natal Pangandaran untuk menggali sebab ia ingin melakukan aksi itu. Inilah cerita bagian kedua.


24 Desember tahun 2000. 

Di malam misa itu, kelompok Jemaah Islamiyah merencakan akan meledakkan bom gereja di berbagai kota. Kholishuddin sendiri diperintah langsung oleh Hambali, teroris yang kini mendekam di penjara Guantanamo milik Amerika Serikat. Motif terornya, sebagai aksi balasan terkait kasus kerusuhan antar kelompok agama di Ambon pada medio ‘99 silam.

“Nah pada tahun 2000 kami merencanakan seperti itu, mengadakan istilahnya pembalasan terhadap mereka walaupun tanpa menginikan korban. Tanpa harus ada korban. Sebetulnya itu cuma harassing saja. Cuma nakut-nakutin saja. Tidak sampai untuk membunuh. Awalnya seperti itu. Tapi kalau kena pun ya satu kilogram kan kalau di ruangan seperti ini ya sekitar 10-15 orang lewat lah dengan segitu itu.”

Sebenarnya Kholis sadar, aksinya untuk mengebom rumah ibadah umat lain ini melanggar adab Islam dalam berjihad. 

Di antaranya kan adab-adab jihad itu banyak. Di antaranya adalah tidak boleh memotong pohon di daerah musuh kalau memang tidak perlu. Tidak membunuh anak-anak, istri, dan orang perempuan lah pokoknya. Dan termasuk adalah tidak boleh menghancurkan tempat ibadah-ibadah mereka. Kan gitu adabnya. Jadi kita sudah menyalahi juga sebetulnya dari situ.

Sebelum aksi, Kholis beserta kelompoknya mengadakan uji coba. Waktu itu dia terus mengingat-ingat rumus racikan bom yang pernah dipelajarinya di Afghanistan pada medio 90-an. 

“Dites dulu kan, detonatornya, bagus apa engga kan gitu.  Pada waktu itu kebetulan bulan Ramadhan. Terus jadi kan suara ledakan seperti itu enggak mencurigakan. Mirip ledakan mercon saja dah. Kan gitu kan. Padahal suaranya lebih kencang daripada mercon. Ya kita coba sudah di tes. Terus apa rumus-rumusnya diinikan.”

Sementara bahan ia dapat dari anak buah Hambali, Dulmatin, salah satu penggagas aksi yang tewas saat digerebek Densus 88 di Tangerang Selatan. Bahan baku bom yang dibawa ke Pangandaran berdaya ledak ringan.

Di tengah rencana jahat untuk meledakkan bom gereja, Kholis menemui sejumlah halang rintang. Diawali dengan sulitnya mencari motor pinjaman untuk dibawa ke Pangandaran. Selepas itu, di tengah jalan, Kholis sempat panik karena terjerat razia polisi.

Nah di perjalanan Ciamis ini, karena waktu itu di lampu merah di Ciamis terlalu tengah atau apa, sehingga polisi nyuruh ke pinggir. Razia lah. Ana kan bawa ransel yang besar itu. Tas yang besar. Itu apa katanya. Pakaian. Apa? Ini kan udah mau liburan pak, saya bilang. Dia buka itu. Padahal di bawahnya itu kalau memang dia bongkar sampai bawah aduh... bahan peledak semua itu.”

Lolos dari razia lalu lintas, bersama satu temannya Kholis melanjutkan misinya ke Pangandaran. Mencari penginapan untuk meracik bom yang akan diledakkan pada malam misa, 24 Desember 2000.

Sembari merakit bom di penginapan, Kholis dan kawannya terus mencari dua gereja yang hendak dijadikan target teror. Target pertama adalah Gereja Bethel Indonesia, gereja seukuran rumah kecil yang terletak dekat Pantai Pangandaran. 

“Waktu itu udah disurvei dua hari sebelumnya. Oh ini tempatnya di sini. Nah ketika kita survei lagi ternyata di sini tidak ada acara kan. Gak ada acara misa. Acaranya cuma pada waktu sore hari, jam lima.”

Rencana Kholis tak berjalan mulus. Acara sore di gereja pun hanya dihadiri anak-anak. “Wah ini anak-anak gak bisa. Anak-anak enggak ada dosa. Walaupun mereka sama tapi anak-anak enggak punya dosa. Kita bukan untuk gitu.

Target tak sesuai harapan, rencana JI untuk meledakkan bom serentak pada pukul 9 malam gagal. Walhasil, target dipindahkan ke sebuah hotel di Pangandaran. Namun rencana itupun nampaknya tak direstui Tuhan.

Baca lanjutan ceritanya: Kholishuddin dan Bom Natal Pangandaran (3)

Kisah sebelumnya bisa dibaca di sini: Kholishuddin dan Bom Natal Pangandaran (1)

Editor: Irvan Imamsyah 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!