Sepuluh WNI dibebaskan kelompok Abu Sayyaf dan diterima Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi. Foto: Ria Apriyani/KBR.

KBR, Jakarta - Masih segar di ingatan Alfian Elvis Repi, detik-detik kapalnya, Brahma 12, diserbu puluhan perompak di perairan Malaysia pada 25 Maret silam.

Kala itu, baru sekitar dua jam Alfian bertugas jaga di kapal, ketika tiba-tiba sebuah kapal dari kejauhan tampak mulai merapat.

Mulanya, ia mengira itu kapal Kepolisian Filipina yang meminta tambahan persediaan air. Tapi, ketika mendekat todongan senjata yang menyambut.

"Saya lihat dari jauh, ada perahu. Saya panggil masinis, bos tolong panggil kapten, tolong suruh ke atas ada perahu mendekat apa tindakan kita. Kita pas lihat mereka itu, pertama kan ada kaus, ada tulisan PNP (Police National Philiphine). Waktu mereka merapat langsung keluar semua senjata, dikasih kode stop mesin. Dikasih kapal berhenti dan mereka naik ke atas langsung todong. Kita semua disatukan, yang di bawah, yang lagi istirahat dipanggil semua ke atas," kenang Alfian.

Kesepuluh ABK PT Patria Maritime pun resmi jadi tawanan perompak Abu Sayyaf. Dari percakapan para perompak pula, sempat terlontar ancaman bakal dibunuh jika ada yang berani kabur.

Beruntungnya, mereka tak diikat bahkan begitu sampai ke lokasi sandera.

"Kita tanya, Pak bisa nggak kita dilepas? Karena kita takkan melawan kita akan kerjasama, kita janji takkan melawan. Ada satu orang bilang yaudah kita lepaskan kalau salah satu lari, sembilan ini sengsara. Mungkin yang satu ini juga mati, takkan akan kita melawan. Ya sudah dilepas semua, sampai kita diturunkan di boat. Sampai di pulau, nggak ada diikat, sampai pembebasan pun nggak diikat."

Keinginan melawan, terbesit di pikiran Alfian. Tapi urung dilakukan. Ia sadar, para perompak bisa dengan mudah membunuhnya dengan senjata laras panjang itu.

"Pengin berontak tapi melihat keadaan seperti itu, mereka bawa senjata besar begitu. Mungkin kalau cuma bawa parang, bawa samurai mungkin masih melawan lah. Kalau pistol mungkin masih bisa kita melawan, tapi ini memang senjatanya senjata besar. Mereka pelurunya segede-gede gini, melingkar, peluru kecil juga ada, double body istilahnya di sana. Dia bilang double body, M-16 dibikin double body."

Turun dari kapal, hari sudah sore. Alfian dan sembilan rekannya lantas diboyong kawanan Abu Sayyaf ke sebuah pulau kemudian menyusuri hutan.  

"Kalau kondisi pulaunya ya, yang ada di situ itu tanaman pohon kelapa paling banyak. Baru banyak batu-batu kayak gersang lah. Di hutan aja kita sama-sama semua. Kita tidur beralaskan daun kelapa daun sido, beratapkan langit, hujan panas di situ."

Kejadian yang takkan dilupakan Alfian, adalah ketika ia harus berpura-pura menjadi muslim. Tak ingin mati konyol, ia mengaku sebagai mualaf.  

"Karena ya mungkin di sana itu, yang tangkap, yang sandera itu kan dari kelompok Abu Sayyaf. Semua tahu muslim, jadi kita untuk menyelamatkan diri kita bilang mualaf. Mereka terima. Ya mereka tanya agama apa, saya bilang mualaf. Ada kawan yang jelasin mualaf itu seperti apa. Mereka bilang, no problem."

Karena mendadak jadi muslim, tiap kali shalat, selalu jadi perhatian perompak. Ia pun menceritakan bagaimana selalu ditertawakan lantaran gerakannya selalu salah.

"Pas mau shalat itu sebenarnya sulit. Mau berontak tapi nggak bisa, itu kita ikutin saja apa mau mereka. Ya sudah kita ikutin semua, bertiga ikutin salat. Cara salat juga pertama salah diketawain kita, tertekan memang batin tertekan banget."
 
Namun begitu, kesepuluh tawanan diperlakukan dengan baik. Tak ada kekerasan fisik yang mendera mereka. Bahkan, salah satu perompak menasehati Alfian agar bersabar.

"Mereka bilang 'sabar', mereka tiap pagi itu ke kita itu, sabar tak usah kuatir, tak usah takut. Baik perilakunya, tak ada kekerasan fisik, tidak ada paksaan, tidak ada tekanan apapun dalam masalah ibadah. Kita mau salat silakan, nggak salat ya silakan. Tapi karena demi keselamatan kita bersepuluh, ayo coba kita ikutin."

Sesekali rombongan sandera dan perompak berpindah-pindah demi menghindari kontak senjata dengan militer Filipina.

Dan dengan kondisi begitu, Alfian dan teman-temannya hanya sempat satu kali mengganti pakaian. Sementara makan, seadanya. Kadang nasi, itu pun kalau ada. Jika tak ada, maka diganti dengan mi dicapur ikan teri.

"Kalau di sana minimal satu hari satu kali, berupa nasi sama ikan ada ikan. Mungkin tongkol ada juga ikan teri kadang dikasih, kalau nggak ada ikan ya campur mi instan. Kadang juga kita dikasih satu piring lima orang, makan sama-sama. Tapi bukan karena mereka nggak mau kasih makan ya, cuma itu yang ada. Apa yang mereka makan, itu yang kita makan. Jadi kalau mereka lihat kita masih mau suka makan tapi sudah habis, kalau mereka rasa mereka lebih mereka kasih lagi. jadi perlakuan mereka itu mereka perlakukan kayak mereka juga kita."

Kengerian sempat menyergap Alfian, kala penyandera mengabarkan eksekusi warga Kanada karena pemerintahnya ogah memenuhi keinginan Abu Sayyaf. Di saat itulah, Alfian mengaku terus menerus berdoa, berharap ada mukjizat.

"Mereka kasih kabar waktunya juga, mereka bilang dari Kanada tanggal 25 jam 3 sore pasti akan ada eksekusi karena itu sudah tertutup negosiasi. Waktu itu ada eksekusi itu, terus terang aja ya kalau saya pribadi, karena saya beda sama mereka itu. Memang sudah kayak nggak ada tulang, tapi tetap berdoa terus, percaya pasti ada mukjizat."

Waktu pembebasan tiba setelah 36 hari dalam tawanan Abu Sayyaf. Di hari itu, Alfian dan seluruh kru Kapal Brahma 12 diangkut dalam satu perahu kecil meninggalkan pulau.

“Biasanya kita dibangunin salat subuh, please, move. Pikiran saya itu, eh kok masih gelap begini kok dibangunin, buat apa kan? Mereka hanya suruh beres-beres, jadi kita beres baju langsung jalan ke pantai. Kita naik perahu, belum tahu ini mau ke mana. Pas lagi jalan kira-kira 1 sampai 2 jam lah, kita tambah bahan bakar. Baru ada yang ngomong pakai bahasa Inggris, 'Chief, maybe this day you come back to Indonesia'. Itu langsung saya berdoa.”

Sampai di Kota Jolo, Filipina, kesepuluh sandera dijemput dua orang tak dikenal dengan mobil. Mereka diturunkan di dekat rumah gubernur setempat. Di sana, mereka disajikan makanan dan melahap semuanya.

“Tiba-tiba sudah di depan, Pak Gubernur yang lagi duduk bingung. Siapa ini, pas kita jelaskan kita 10 orang WNI yang ditahan sama Abu Sayyaf, langsung dia tarik disuruh masuk disuruh duduk. Baru kita ditawari makan, makan itu kayak orang kelaparan semua. Baru merasakan nikmatnya makanan, sudah ada sayurnya. Biasanya cuma makan pakai ikan seadanya, nasi banyak tapi ikannya, aih..."

Dari situ, pada 1 Mei, mereka semua diterbangkan kembali ke tanah air. “Di situ kita dibawa lagi ke basecamp, kayak RSPAD di sini. Kita diperiksa kesehatan, naik helikopter diterusin ke Sambuangga. Di situ di pangkalan militer, di situ diinterogasi lagi berdua chief engine sama chief officer. Di situ diinterogasi, jam 7 kita terbang dari ke Balikpapan, dari Balikpapan ke Jakarta.”

Lolos dari cengkeraman pembajak, Alfian mengaku tak kapok melaut. Dua bukan ke depan, ia akan kembali mengarungi laut.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!