Anak-anak di PAUD Mas Koki, Beji, Depok, mengumpulkan sampah. Foto: Bambang Hari/KBR.

KBR, Jakarta - Suara laju mobil-mobilan memecah keheningan pagi itu. Seorang bocah berusia lima tahun, Irfan, tengah asyik bermain. Tak jauh dari situ, sang ibu sibuk mengumpulkan botol bekas air minum dan kemasan karton susu.

Serakan sampah itu lantas dikumpulkan jadi satu untuk diboyong ke sekolah PAUD Mas Koki -tempat Ifran belajar. Yulianah, ibu Irfan bercerita, sampah itu untuk menggantikan uang sekolah anaknya.

“Saya kumpuli saja di rumah misalnya susu misalnya gelas plastik, bekas minuman seperti ini saya kumpulkan nanti giliran mau bayaran saya bawa, (sampah-sampah rumah tangga?) bisa kemasan bekas produk minyak, nanti kan di sana didaur ulang lagi,” ujar Yulianah.

Dengan begitu, ia dan suami yang menjadi pegawai honorer, tak perlu lagi merogoh kantong lagi. Sebab, honor suaminya kerap cair pasca tiga bulan bekerja.

“Biaya sekolah sekarang mahal, walaupun dibilang gratis tetap saja mahal apa lagi di sekolah di sini. Belum bukunya belum yang lain, jadi dengan adanya sekolah seperti ini cukup membantu.”

PAUD Mas Koki berada di kawasan Beji, Depok, Jawa Barat. Digagas enam tahun silam oleh Mahmudah Cahyawati. Dulu, sekolah ini menerapkan aturan uang Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) Rp10 ribu setiap bulan.

Tapi, banyak orangtua siswa yang tak mampu membayar. Ini karena sebagian besar pekerjaannya hanya pekerja bangunan atau buruh kasar. Hingga pada pertengahan Januari 2013, pihak sekolah mengubah aturan; menjadikan sampah sebagai uang SPP.

“Jadi akhirnya kami mencari jalan supaya anak bisa bersekolah dan mereka bisa merasakan sekolah seperti anak yang lain yang membayar mahal. Akhirnya kami memutuskan membayar dengan sampah, karena semua orang pasti menghasilkan sampah terutama sampah daur ulang. Itu mempunyai nilai dibanding dengan sampah-sampah yang lain, sampah organik juga mempunyai nilai tetapi harus diolah lebih lanjut. Jadi akhirnyua sekolah ini dibayar semampu mereka dan sebagian lagi dengan sampah daur ulang,” ungkap Mahmudah Cahyawati.

Lambat-laun, para orang tua siswa tak lagi kesulitan membayar SPP. Anak-anak pun kata dia, jadi senang ke sekolah sebab sampah-sampah itu disulap menjadi bahan untuk belajar.

Di PAUD Mas Koki pula, kurikulumnya tak biasa. Mahmudah bercerita, ia mengombinasikan pendidikan formal dan karakter.

”Jadi kami mengombinasikan untuk anak usia dini ada kurikulum generik. Kurikulum generik adalah kurikulum yang yang diajarkan di anak usia dini, lalu kami juga mengkombinasi dengan pendidikan karakter yang kami dapat dari buku dan kami juga mendapatkan pelatihan dari EHF. Kemudian kami kombinasi dengan pendidikan lingkungan sehingga kami menamakan kurikulum sekolah kami sebagai pendidikan berkarakter berbasis lingkungan,” jelasnya.

Ia mengatakan, membentuk karakter anak tak hanya teori, tapi juga dengan praktik.

Di sekolah ini pula, Mahmudah dibantu tiga guru yang direkrut dari lingkungan sekitar. Kata dia, awalnya ketiga guru itu tak punya pengalaman mengajar, tapi Mahmudah lantas mengajari.

“Jadi beliau lah yang mengajar kita, jadi ini harus begini, jadi bagaimana mengajarkan menghadapi anak-anak bu Uut yang mengajarkan. Kebanyakan dari beliau belajar walaupun masih mudah tetapi pengalamannya lebih banya,” kata Kiki Latifah, salah satu guru.

Guru lainnya, Halimatus Sadiyah atau biasa disapa Bu Neng mengatakan, cara belajar disesuaikan dengan suasana hati anak-anak. Tujuannya agar materi yang diajarkan mudah diterima.

“Kalau lagi mood-nya enak, gampang diarahin cuma kalau kayak tadi, ngantuk bu, ya sudah saya arahin yuk kita tidur dulu. Jadi mencari suasana ketika dia mood saja. Ketika dia ngantuk yuk kita tidur yuk kita baca doa tidur, akhirnya masuk konsepnya setiap Jumat belajar agama,” tuturnya.

Sementara ketika jam belajar lain, bocah-bocah itu diajak bermain sambil belajar dengan botol bekas yang diisi air. Mirip dengan ilmu gravitasi.

Selepas belajar, para siswa bersiap pulang. Sedang sang guru, membersihkan sampah yang dibawa orangtua.

Satu persatu, sampah kemudian dipilah. Bekas gelas plastik minuman dibersihkan agar nilai jualnya tinggi. Kalau ada tutup botol, akan dibersihkan untuk digunakan sebagai sarana belajar.

“Tutupnya kita pakai buat permainan, bisa bikin hurup bikin angka, bikin bunga bikin mobil-mobilan, bisa main warna bisa, banyak sebenarnya bisa bermain dengan tutup botol ini,” tutup Kiki Latifah.

PAUD Mas Koki telah membuktikan bahwa pendidikan yang berkualitas tak perlu mahal. Mahmudah punyai cita-cita; ia ingin memiliki sekolah karakter berbasis lingkungan  di setiap daerah.

“Ke depannya saya menginginkan sekolah lebih khusus lagi yang dibiayai dengan sampah, sehingga siapa pun bisa bersekolah bisa menimbah ilmu sesuai dengan keinginan masing-masing. Saya ingin membangun SMK yang khusus, yang benar-benar memiliki nilai-nilai yang dimiliki siswa sesuai dengan usianya. Ketika anak itu lulus dari sekolah itu dia tau apa yang mereka lakukan dan dia sudah tahu apa yang dia punya dari dirinya, yang memanfaatkan potensi lokal dan potensi anak.”




Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!