[SAGA] Miss Waria 2017 dan Tugas Mesti Dipikulnya

Malam Inagurasi Miss Transchool 2017. Sebuah ajang pemilihan waria muda yang nantinya ditugaskan melakukan advokasi atau pembelaan terhadap waria di Jabodetabek.

Kamis, 23 Mar 2017 15:40 WIB

Malam Inagurasi Miss Waria 2017. Rere (gaun merah) terpilih menjadi pemenang. Foto: Rio Tuasikal/KBR.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Gelaran kontes kecantikan mungkin sudah lumrah. Tapi, Sabtu malam di bulan Februari, jadi tak biasa –karena semua pesertanya adalah transgender perempuan muda. Sebanyak 22 transwoman melenggak-lenggok di atas panggung dan berpose. Selain juga, menjawab pertanyaan dewan juri.  

Inilah Malam Inagurasi Miss Transchool 2017. Sebuah ajang pemilihan waria muda yang nantinya ditugaskan melakukan advokasi atau pembelaan terhadap waria di Jabodetabek.

Tapi jauh sebelum kontes ini akhirnya digelar, 22 waria muda ini mengikuti Transchool –atau sekolah alternatif sejak November tahun lalu. Di sana mereka diajarkan kesehatan reproduksi, Hak Asasi Manusia (HAM), advokasi, dan paling penting penerimaan diri. Dan puncak dari Transchool adalah malam ini. Koordinator kegiatan, Khanza Vina.

“Jadi apa sih yang sebenarnya negara harus lakukan kepada kita sebagai warga negara? Kalau kita punya 22, tahun depan 22 lagi, ada 100 orang saja yang berpikir kritis, itu akan semakin banyak yang akan menyuarakan ketidaksetaraan yang terjadi,” ucap Khanza.

Perhelatan Miss Transchool sesungguhnya sudah ada sejak 2010 dan digagas Perkumpulan Sanggar Swara. Sementara Transchool sendiri selenggarakan secara berkala oleh Sanggar Swara –yang tujuannya meningkatkan posisi tawar waria muda dalam mengadvokasi hak-hak mereka sebagai warga negara.

Sebab di Indonesia, mayoritas waria dibuang oleh keluarganya sehingga mereka terpaksa berhenti mengenyam pendidikan. Adapun yang bersekolah kerap dapat bully oleh temannya. Tanpa pendidikan formal, kebanyakan waria berakhir di salon atau jadi pekerja seks.

LSM Arus Pelangi bahkan mencatat 9 dari 10 LGBT mengalami kekerasan di ruang domestik dan publik. Dengan kondisi itu, Transchool bukanlah sekadar ajang kecantikan, ungkap Khanza Vina, melainkan sekolah aktivis.

“Setidaknya mereka akan jadi peer educator atau role model di komunitasnya, bahwa harapannya kawan-kawan ini akan membagi itu kepada kawan-kawan yang belum terjangkau sama kami. Jadi nggak putus. Jadi setelah dari sini teman-teman punya PR lagi,” sambung Khanza.

Pentingnya Transchool juga diungkapnya Rebecca Nyuei, Miss Transchool 2015. Kata dia, Transchool membuatnya menerima diri secara penuh dan menjadi lebih percaya diri.

“Itu sebenarnya kayak menanamkan nilai. Di Transchool ini kan saat pre-test mereka bilang lebih suka materi penerimaan diri. Karena benar-benar mereka berada di fase mencari jati diri,” pungkas Rebecca.

Begitu pula, menurut Rere –peserta Transchool 2017. “Transchool yang saya ikuti memang benar-benar berbeda. Di sini tuh tidak melihat kecantikan atau fisik belaka. Tapi lebih ke kemampuan, sikap, cara berperilaku. Cara pembelajarannya pun sangat berbeda: kita memahami segala hak kesehatan seksual, HIV/AIDS, advokasi, HAM, feminisme, dan banyak lagi.”

Magdalena Sitorus, anggota Komnas Perempuan yang juga juri kontes malam itu, mengatakan pendidikan HAM dan advokasi penting bagi komunitas yang dimarjinalkan seperti waria.

“Itu kan capacity building sebagai individu dan kelompok dan per group, tahu akan haknya, dan tahu kalau mereka mengalami sesuatu ke mana mereka pergi. Itu juga kan pengetahuan. Dan mereka tahu ke mana menjaring mitra. Seperti Komnas Perempuan juga melihat mereka sebagai stakeholder kami,” jelas Magdalena.

Kembali ke panggung, di mana juri akhirnya telah memilih tiga finalis. Dan... Rere terpilih sebagai Miss Transchools tahun ini.

Kata transwoman asal Bekasi ini, perjalanannya justru baru dimulai. “Karena ke depannya bagaimana cara kita bersikap di masyarakat, bagaimana cara kita memanfaatkan ilmu yang sudah kita dapatkan di Transchool ini. Bagaimana cara kitra bisa memberikan kebahagiaan ke teman-teman lain,” harap Rere.

Berbekal pengetahuan serta rasa percaya diri dari Transchool, Rere dan para waria muda ini akan berupaya menghapus stigma.

“Kalau kita berharap untuk disamakan jangan dianggap remeh oleh masyarakat ya masih susah. Tugas kita ya mengubah pandangan masyarakat kepada kita. Bahwa kita sama, kita pun baik, kita juga bisa bermanfaat di lingkungan,” harap Rere.




Editor: Quinawaty 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi