Ilustrasi kampanye antirokok. Foto: Antara

KBR, Jakarta - Di SMP Budhaya 3 Santo Agustinus, Jakarta Timur, Antonius Parimin bercerita tentang kekhawatirannya akan paparan iklan rokok pada anak didiknya. “Anak-anak itu kalau disebutkan kata tertentu, langsung nyambung iklan apa itu. Lagu tertentu, nyambung. Karena begitu gencarnya iklan rokok,” ucapnya.

Kepala Sekolah ini juga mengatakan, hampir semua anak muridnya hafal beragam iklan rokok dengan bermacam merek. “Lewat kan iklannya ada, sekitar sekolah. Namanya tiap hari dilihat kan otomatis apa sih itu. Apalagi iklannya menarik. Suatu saat, coba deh!”

Kekhawatiran Anton, begitu ia disapa, sejalan dengan catatan Yayasan Lentera Anak Indonesia (LAI). Di mana 85 persen dari 360 sekolah di Jakarta, Bandung, Padang, Mataram dan Makasar terkepung iklan rokok. Promosi iklan rokok itu berupa spanduk, display rokok yang berbaur dengan makanan, minuman yang disukai anak-anak.

“Ini bukan tanpa maksud, karena perokok itu makin tua suatu saat akan berhenti merokok. (Itu) kenapa harus mencari penggantinya. Itulah bagaimana supaya anak tertarik merokok,” pungkasnya.

Kini, Anton harus membuka lebar-lebar matanya agar jeli melihat iklan rokok yang mulai mendekati sekolahnya. Itu sebab, belakangan ia menggandeng Organisasi Kesiswaan OSIS untuk membersihkan semua iklan itu.

Seperti yang dilakoni Vonny Suryani, Ketua OSIS SMP Budhaya 3 Santo Agustinus, bersama teman-temannya.

“Kalau buat kelas IX sendiri hampir semua yang cowok ngerokok paling cuma 6 yang nggak, sedangkan kelas VIII juga banyak,” kata Vonny.

Tak ingin teman-temannya terjerat rokok, ia pun mengajak anggota OSIS lainnya untuk menyisir iklan rokok di sekeliling sekolah. “Nah jadi kalau semakin banyak iklan rokok yang dipasang, maka anak-anak makin ada rasa untuk makin mencoba-cobanya.”

Ajakan itu berhasil, salah seorang anggota OSIS, Fransisca Larasati getol ikut mencopoti spanduk-spanduk iklan rokok di warung-warung sekitar sekolah. “Jadi kita bawa spanduk, kita nyamperin ke warung-warungnya. Kita tukar spanduk iklan rokok yang mereka punya dengan spanduk penolakan rokok. Sesudah itu kita kasih satu papan isinya tanda tangan masyarakat sekitar bahwa warga setuju nurunin iklan rokok dari warung-warung.”

Cerita lain datang dari Balthasar, anggota OSIS lain. Meski mulanya gugup, ia bisa merayu pemilik warung agar menurunkan spanduk iklan rokok. “Ya gugup-gugup gitu deh, ya kayak di warung, takut ada keributan, tapi fine-fine saja. (Aksi) jalan lancar.”

Apa yang dilakukan siswa SMP Budhaya 3 Santo Agustinus, berbuah manis. Kini, tak ada lagi iklan rokok terpampang di sekitar sekolah.

Tapi bagi, Kepala Sekolah Antonius Parimin, keberhasilan kecil ini tak akan langgeng tanpa dukungan pemerintah daerah. “Apa yang kita kerjakan ini tidak akan berhasil tanpa dukungan instansi pemerintah yang berwenang.”



Editor: Quinawaty Pasaribu

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!