"Saat Menelpon Customer Service Bank, Si Pencopet Sudah Melakukan Transaksi Kartu Kredit"

Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia merilis sepanjang tahun 2015 pengaduan konsumen paling banyak diterima dari sektor perbankan, khususnya mengenai kartu kredit.

Selasa, 12 Jan 2016 14:30 WIB

Ilustrasi.

Ilustrasi.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Apakah Anda merasa keamanan kartu kredit yang dikeluarkan pihak bank belum maksimal? Nah, menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia merilis sepanjang tahun 2015 pengaduan konsumen paling banyak diterima dari sektor perbankan, khususnya mengenai kartu kredit. Menurut data YLKI, dalam menanggapi laporan konsumen yang kartu kreditnya hilang misalnya, respon bank sangat lamban dan merugikan, hingga pembobol kartu kredit leluasa menyedot uang.

Salah satu yang menjadi korban pembobolan kartu kredit adalah dosen UIN Syarif Hidatullah Jakarta, Novi Diah Haryanti. Novi menjadi korban pencopetan saat naik angkot D01 Jurusan Ciputat-Kebayoran Lama. Karena hal ini kartu kreditnya bisa digunakan si pencopet di swalayan. Seperti apa cerita selengkapnya? Apaakah pihak kepolisian menanganinya dengan cepat? 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Disebut Dukung HTI, Menpora Segera Panggil Adhyaksa

  • Diprotes Imvestor, Presiden Sentil 2 Menteri
  • KPPU: 5 Perusaah Atur Tata Niaga Beras di Sejumlah Provinsi
  • Indonesia Gandeng Azerbaijan Buat Pusat Pelayanan Terpadu

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.