Perjalanan Suci

Bertolak dari Malang, Jawa Timur, akhir pekan lalu, pasangan suami-istri ini bersepeda dengan tujuan akhir adalah di Mesir – total berjarak 17 ribuan kilometer.

Senin, 19 Des 2016 00:14 WIB

Ilustrasi Sepeda

Ilustrasi: Sepeda

Pasangan suami istri Hakam Mabruri dan Rofingatul Islamiah saat ini sedang dalam perjalanan mereka bersepeda keliling dunia. Bertolak dari Malang, Jawa Timur, akhir pekan lalu, tujuan akhir mereka adalah di Mesir – total berjarak 17 ribuan kilometer. Misi utama mereka adalah perdamaian serta kerukunan antarumat beragama. Di jalan mereka akan bertemu komunitas sepeda, juga kelompok lintas iman. Pemicu utama sepeda keliling dunia ini adalah konflik antaragama yang terjadi di tanah air. Karena itu mereka menyebut perjalanan ini sebagai Holy Journey atau Perjalanan Suci. 

Ini adalah pesan penting - tak hanya untuk dunia, tapi juga bagi tanah air. Sepanjang 2016, kekerasan atas nama agama terus saja ada. Bom di Samarinda, kasus penistaan agama Ahok, serta pelarangan kebaktian Natal di Bandung adalah kasus terbaru yang masih hangat. Tren ini tentu mengkhawatirkan, seolah Indonesia tak sanggup lagi menerima perbedaan sebagai suatu anugerah. 

Survei terakhir yang dilakukan International NGO Forum on Indonesian Development, INFID, sesungguhnya cukup menenangkan. Sebanyak 88 persen dari 1200 anak muda yang disurvei tidak setuju dengan kelompok agama yang lakukan kekerasan. Alasan utamanya adalah karena tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan. Indonesia yang bhinneka juga jadi faktor kebanggaan dan pemersatu bagi anak muda. 

Karenanya apa yang dilakukan Hakam Mabruri dan Rofingatul Islamiah sangatlah penting. Kita perlu terus ingat dan diingatkan soal indahnya keberagaman. Bahwa perbedaan adalah sebuah anugerah, juga kebanggaan.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!