Petugas kepolisian memasang garis polisi di sekitar lokasi bom panci Bandung.

Petugas kepolisian memasang garis polisi di Kantor Kelurahan Arjuna, Bandung, Jawa Barat, Senin (27/2) (foto: Antara)

Awal pekan ini kita dikejutkan dengan teror bom panci rakitan di Kota Bandung Jawa Barat. Seorang pria terduga pelakunya tewas ditembak di kantor kelurahan. Polisi menyebut pelakunya lahir, besar dan menikah di Purwakarta, Jawa Barat. Ia pun sudah masuk daftar orang-orang yang dicurigai dalam jaringan teroris. 

Peristiwa itu terjadi hanya selang sehari setelah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menganugerahkan Harmoni Award 2016 kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Ini adalah penghargaan bagi pemerintah daerah yang giat menjaga kerukunan antarumat beragama di daerah itu. Selain untuk Purwakarta, Harmoni Award juga diberikan kepada sejumlah daerah lain di Indonesia.

Di satu sisi kita memberikan apresiasi terhadap Bupati Purwakarta dan kepala daerah lain. Upaya menjaga kerukunan umat beragama di daerah itu patut dicontoh, dengan minimnya pemberitaan maupun laporan terjadinya kasus intoleransi. Tapi di sisi lain, kita prihatin dengan kondisi dimana banyak terduga teroris yang menjadikan Purwakarta atau daerah tertentu sebagai tempat pelarian, persembunyian atau kawasan transit. 

Akhir tahun lalu, misalnya, polisi membekuk empat terduga teroris jaringan Bahrun Naim di dekat Waduk Jatiluhur Purwakarta. Kelompok ini berencana melakukan aksi teror di malam tahun baru. Pada 2012, Densus Antiteror juga menangkap tiga orang terduga teroris di tempat persembunyian di Purwakarta. 

Tewasnya warga kelahiran Purwakarta dalam teror bom panci di Bandung, jangan sampai melemahkan semangat pemerintah daerah itu dalam merajut benang-benang kebhinnekaan dan kerukunan umat beragama. Begitu juga dengan banyak terduga teroris yang bersembunyi di Purwakarta sebelumnya. Semoga tidak sampai melahirkan bibit-bibit teroris baru.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!