Eks buruh migran yang mengalami gangguan jiwa deportasi dari Malaysia berkeliaran di Kota Nunukan. P

Eks buruh migran yang mengalami gangguan jiwa deportasi dari Malaysia berkeliaran di Kota Nunukan. Pelni menolak mengangkut mereka untuk dipulangkan ke kampung halaman (Foto: KBR/Adhima S.)

Dinas sosial Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara kebingungan. Tanpa alasan yang jelas perusahaan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) menolak tiga eks buruh migran yang hendak mereka pulangkan ke Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketiga buruh migran itu biasa berkeliaran di jalanan setelah mengalami gangguan jiwa pasca dideportasi dari negeri jiran Malaysia.

Saat ini ada puluhan eks buruh migran yang mengalami gangguan jiwa berkeliaran di Nunukan. Ini lantaran pemerintah daerah setempat tak memiliki fasilitas perawatan orang dengan gangguan jiwa. Maka itu diupayakan mengembalikan mereka ke kampung halaman. Tapi apa daya, kapten kapal Bukit Siguntang, menolak mengangkut mereka tanpa alasan yang jelas pada dua hari lalu. 

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Maksud hati mencari rezeki di negeri orang, malah terusir, dideportasi dan terkena gangguan jiwa. Kini malah tak dapat kembali ke kampung halaman lantaran perusahaan pelayaran milik negara itu tak sudi mengangkut mereka. Terlunta-lunta di kampung orang tanpa sanak saudara.

Perusahan pelayaran negara yang memberikan layanan angkutan publik mestinya tak mendiskriminasi penumpang. Justru karena mereka tengah ditimpa musibah, mestnya ada layanan ekstra yang diberikan. Apalagi menurut dinas sosial setempat kondisi mereka sudah lebih baik, dari saat ditemukan. Kapten kapal yang menolak mengangkut tanpa alasan yang jelas itu, mesti diberi pemahaman dan sekaligus sanksi. 

Teguran keras juga mesti diberikan bagi pemerintah pusat dan daerah. Lantaran tak memberikan layanan memadai bagi para pahlawan devisa hingga terlunta-lunta berselimut debu di jalanan Kabupaten Nunukan. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!