Ilustrasi. (Antara)

Ilustrasi. (Antara)

Kemarin sejumlah tempat penukaran mata uang dibanjiri para pemilik dolar yang ingin menukar dengan rupiah.

Ketika nilai tukar rupiah menembus Rp14 ribu per satu dolar, banyak yang melepas lembaran dolar mereka untuk mendapatkan untung selisih dari harga dolar dahulu. Inilah pamor terendah mata uang Rupiah sejak krisis tahun 1998. Saat itu satu dolar Amerika senilai Rp16.650.

Selain rupiah terpuruk, indeks saham juga merosot. Tidak hanya di Indonesia tapi seluruh pasar saham Asia berguguran. Banyak yang menyebut hari Senin kemarin sebagai Black Monday - hari kelabu bagi para pegiat pasar saham dan keuangan Asia.

Banyak orang lantas bertanya: apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk memperkuat rupiah dan pasar modal?

Presiden Joko Widodo sejauh ini masih kesal karena penyerapan anggaran rendah baik di pemerintah pusat maupun daerah. Saat ini penyerapan anggaran 2015 untuk belanja modal baru mencapai rata-rata 20 persen---padahal sekarang sudah Agustus.

Para ekonom memang menganggap penyerapan anggaran selama tujuh bulan ini sangat mengecewakan. Padahal anggaran tahun ini sangat besar mencapai 2000 triliun. Banyak anggaran mengendap di bank, mencapai ratusan triliun. Mestinya penyerapan anggaran yang maksimal bisa meningkatkan daya beli masyarakat dan berdampak positif bagi peningkatan ekonomi.

Kita berharap pemerintah pusat dan daerah bekerja lebih keras, agar anggaran yang sudah disediakan bisa terserap maksimal di sisa waktu empat bulan ini. Pemerintah juga mesti memperhatikan dampaknya agar bisa dirasakan oleh masyarakat, jangan hanya berorientasi pada proyek semata. Juga tak boleh diam saja melihat orang beramai-ramai mengambil untung di tengah terpuruknya rupiah. Pemerintah mesti siap dengan rencana A sampai Z untuk mengantisipasi segala situasi jika terjadi guncangan ekonomi global. 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!