Garuda Pancasila. (Antara)

Garuda Pancasila. (Antara)

Tujuh puluh tahun lalu, Soekarno berpidato di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Di situ lah kali pertama kata ‘Pancasila’ diucapkan sebagai bentuk dasar falsafah negara. Pancasila juga yang kemudian disahkan sebagai dasar negara Indonesia sejak Agustus 1945.

Di dalam Pancasila, nilai-nilai dasar negara ini ditanamkan. Bahwa  Indonesia bukanlah negara untuk satu orang atau satu golongan – melainkan bagi seluruh rakyat. Satu buat semua, semua buat satu. Dalam pidatonya, Soekarno menyebut kalau bangsa Indonesia adalah bangsa tidak saja bertuhan, tapi setiap orang Indonesia hendaknya bertuhan dengan Tuhanyna sendiri. Bahwa permusyawaratan dan gotong royong adalah nafas bangsa ini. Bahwa demokrasi yang kita inginkan adalah demokrasi yang memberikan penghidupan.

Sejak awal, kelima hal ini tidak hendak dinamakan sebagai Pancadharma, karena dharma artinya kewajiban. Sementara Pancasila dimaksudkan dengan niat yang lebih adiluhung – menjadi dasar negara, dasar bagi Indonesia untuk tumbuh.

Setelah tujuh puluh tahun berlalu, masihkah ada Pancasila di hati kita?

Generasi 80an mengingat Pancasila sebagai hafalan. Di setiap upacara bendera, Pancasila dikumandangkan. Tapi ya itu – sebatas sebagai hafalan dan bunyi. Penerapannya, penuh noda di mana-mana. Kehidupan kita sehari-hari adalah contoh pengingkaran kita kepada Pancasila. Korupsi. Diskriminasi. Radikalisme agama. Tidak terpenuhinya hak asasi manusia setiap warga negara. Kekerasan antar warga. Bukti bahwa hafalan kelima sila itu tak mampu masuk sampai ke sanubari.

Katanya, Pancasila hanya diingat di tanggal 1 Juni. Pejabat-pejabat tinggi negara tahun ini berkumpul di Blitar untuk memperingati hari lahirnya Pancasila. Usai seremoni, lalu sunyi. Lalu kita lupa Pancasila ada di mana – meski pasti ada di tembok-tembok sekolah dan kantor pemerintah.

Ini yang harus diubah di tengah zaman yang makin edan. Pancasila adalah dasar. Pancasila seharusnya selalu di hati, bahkan ketika kita mungkin lupa kalimat persis dari setiap silanya.   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!