Ilustrasi. (djs)

Ilustrasi. (djs)

Tepat pukul  setengah lima sore kemarin puluhan orang membunyikan klakson, peluit dan kentongan. Ini adalah alarm tanda bahaya. Alarm ini dibunyikan keras-keras di depan Istana Presiden. Ini penanda kejahatan seksual terhadap anak, khususnya perempuan, masih terus terjadi.

Melalui akun twitternya Jokowi menyampaikan rasa dukacitanya atas kematian YY - perempuan 14 tahun yang diperkosa dan dibunuh 14 laki-laki. Jokowi juga meminta para pelaku dihukum seberat-beratnya.

Ungkapan keprihatinan Jokowi kali ini terasa hambar. Sekadar prihatin kali ini tak cukup. YY hanya 1 kasus. Ada ribuan kasus serupa lainnya yang terus terjadi. Tahun lalu anak perempuan sembilan tahun ditemukan mati di dalam kardus di Kalideres, Jakarta Barat.

Tahun lalu, Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat telah terjadi 1000an kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak. Sementara Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2016 yang menyebut kasus kekerasan seksual telah naik menjadi peringkat kedua dari keseluruhan kasus kekerasan terhadap perempuan.

YY mengingatkan betapa kita tidak pernah serius berupaya menyelesaikan kejahatan yang luar biasa ini. Hingga hari ini, pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual mandeg di DPR.  Padahal RUU itu diyakini dapat menekan angka kekerasan seksual yang terjadi. Lalu, apakabar draf Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) yang mengatur hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual?  

YY harus jadi yang terakhir. Harus. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!