Soal Papua

Kasus kekerasan di Papua tak bisa selesai dengan membangun jalan. Sementara kasus gizi buruk dan campak yang menyebabkan 70-an anak meninggal sekarang jadi sorotan internasional.

Kamis, 01 Feb 2018 05:09 WIB

Melihat warga yang dievakuasi keluar Asmat.

Melihat speedboat membawa warga yang menderita gizi buruk keluar dari kampung Warse,Kabupaten Asmat, Papua. (Foto: Antara/M Agung Rajasa)

Indonesia akan kedatangan Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Zeid Ra'ad Al Hussein. Kunjungan awal Februari ini adalah hasil lobi Kementerian Luar Negeri, sehingga Zeid memperpanjang lawatannya ke negara-negara Pasifik dan mampir ke Indonesia. Pemerintah tentu ingin menunjukkan rapor biru di bidang HAM. Pada 2015 dan 2016 lalu, Zeid melayangkan surat kepada Menteri Luar Negeri, mempertanyakan kebijakan hukuman mati dan kondisi di Papua. 

Soal Papua, Pemerintah bakal sulit berkelit dari campur tangan negara lain. Pada sidang Dewan HAM PBB September tahun lalu, negara-negara seperti Australia dan negara di Kepulauan Pasifik tegas meminta Indonesia menghentikan aksi kekerasan, penangkapan dan pembunuhan yang menimpa rakyat Papua. Juga, untuk mengundang Pelapor Khusus PBB untuk masuk Papua. Tapi Pemerintah menolak dan meminta negara lain tak ikut campur atas persoalan di Bumi Cendrawasih. 

Pekan depan, Komisioner Tinggi HAM PBB sampai di Indonesia. Yang disodorkan jangan hanya cerita manis infrastruktur di Papua atau dana otonomi khusus yang mencapai Rp 7,9 triliun tahun lalu. Kasus kekerasan di Papua tak bisa selesai dengan membangun jalan. Sementara kasus gizi buruk dan campak yang menyebabkan 70-an anak meninggal sekarang jadi sorotan internasional. 

Pemerintah mesti serius menyelesaikan masalah Papua. Presiden Joko Widodo sejak awal menunjukkan gestur positif soal Papua, dan itu mesti diwujudkan secara nyata. Para pembantunya juga tak perlu alergi pada kritik, termasuk dari negara-negara Pasifik. Terus menutup mata dan telinga hanya akan memperburuk citra Indonesia. PR Menkopolhukkam Wiranto pun tak main-main: 3 kasus pelanggaran HAM di Papua dan Dialog Jakarta-Papua. Ini juga ‘kerja kerja kerja’ yang ingin kita lihat hasilnya.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi
  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial

Dokter RS Premier: Setnov Pernah Minta Dirawat Dokter Terawan

  • APK Pasangan Khofifa-Emil Dibakar Orang Tidak Dikenal di Situbondo
  • AL Libya Selamatkan 263 Imigran di Lepas Pantai Barat
  • Final Piala FA, Antonio Conte Sebut Chelsea bukan Favorit Juara

Setiap individu itu unik, mereka memiliki kesukaan masing-masing, termasuk dalam bekerja. Kebanyakan orang ingin bekerja di bidang yang sesuai dengan passion dan motivasi mereka masing-masing.