Ledakan di Sarinah.

Ledakan di Sarinah.

Pertunjukan atau konser itu mestinya mebahagiakan dan menyenangkan bagi penontonnya. Tapi konser yang satu ini menghasilkan duka, kepedihan yang mendalam dan rasa takut. 

Sebulan silam kepolisian menangkap sejumlah tersangka teroris. Dari sejumlah penangkapan di beberapa kota itu polisi mengungkap rencana aksi yang diberi sandi “Konser”. Sejumlah lokasi juga sudah diincar untuk pagelaran “Konser”. Kepolisian menyebut kelompok ini sebagai jaringan ISIS.

"Konser maut" itu akhirnya terjadi juga. Kamis siang yang terik di Jakarta Pusat, “konser” itu digelar. Ledakan bom, baku tembak membuat siang jelang tengah hari bolong di kawasan pusat perkantoran dan perbelanjaan Sarinah mencekam. Tak menunggu lama, gambar dan video korban ledakan terkapar berlumuran darah bertebaran di media sosial.

Konser mengerikan itu lantas diikuti sas sus ada aksi serupa juga terjadi di tempat lain. Kepolisian menyebut akibat teror itu sebanyak 6 orang tewas, 5 di antaranya adalah pelaku. Sedangkan yang terluka mencapai 19 orang.

Melalui berbagai media sosial kecemasan itu tersebar. Sebagian ada yang was-was, sebagian lainnya memilih untuk tak mengikuti harapan para teroris itu. Tak lama setelah aksi keji itu, melalui media sosial beredar undangan untuk bersama melawan rasa takut. Petang ini di lokasi peristiwa akan berlangsung aksi damai warga. Membagikan bunga, bergandengan tangan melawan segala bentuk teror.

“Kenakan baju putih,” kata undangan itu. Sebagai perwujudan dari rasa tidak takut melawan teror. Karena rasa takut itulah yang sesungguhnya disasar para pelaku “konser”. Semakin banyak orang yang takut, semakin bergembiralah para pelaku teror.

Teror bisa hadir di mana saja dan kapan saja. Karena itu, sembari ikut aksi melawan takut, tetaplah waspada. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!