Mendukung Pancasila

Syafii Maarif menyebut kita tidak boleh kalah dengan 'teologi maut'. Mereka membuat dikotomi antara 'kita' dan 'mereka', di mana seolah-olah kelompok selain 'kita' adalah haram.

Minggu, 09 Apr 2017 21:49 WIB

ilustrasi: Mendukung Pancasila

Ilustrasi: Mendukung Pancasila

Sejumlah ormas di Cilacap, Jawa Tengah, rupanya sudah gerah dengan ormas yang mengusung gerakan khilafah atau paham yang bertentangan dengan Pancasila. Selain menggelar Apel Siaga Pancasila, hari ini mereka akan mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo, sejumlah kementerian dan DPR. Isinya, mendesak pemerintah untuk berbuat banyak, mencegah kampanye paham yang justru bertentangan dengan dasar negara kita. 

Cilacap hanya satu kota di Jawa Tengah. Riak seperti ini harus digaungkan terus oleh daerah lain. Ini penting supaya mayoritas masyarakat yang mendukung Pancasila tak tenggelam suaranya. Yang lebih sering terjadi justru 'silent majority' atau kelompok kebanyakan yang memilih diam. Sikap diam ini yang seringkali berbalik - membuat kelompok kecil yang tak setuju dengan Pancasila justru terdengar lebih keras. 

Akhir pekan lalu, Syafii Maarif menyebut kita tidak boleh kalah dengan 'teologi maut'. Menurut Buya Syafii, paham ini menyiratkan berani mati, karena tidak berani hidup. Ada dikotomi antara 'kita' dan 'mereka', di mana seolah-olah kelompok selain 'kita' adalah haram. Pesan penting yang disampaikan adalah Negara tidak boleh kalah atas gagasan kekerasan semacam ini. 

Kapolri Tito Karnavian juga meminta supaya publik bersuara. Menurut Kapolri, dukungan dari publik atas tindakan tegas polisi sesuai aturan hukum juga penting. Aturan hukum sudah jelas, dasar negara kita masih tetap Pancasila. Artinya, ini juga yang jadi pegangan aparat dalam bertindak. Dan ini butuh dukungan dari publik. 

Pancasila rumah kita, begitu lirik lagu karya Franky Sahilatua. Gerakan radikal tak membawa faedah karena justru berpotensi memecah belah. Pancasila merekatkan perbedaan-perbedaan masyarakat Indonesia, sembari terus merayakan keberagaman kita. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.