Kita Semua Setara

Handoko menggugat aturan di Provinsi Yogyakarta yang melarang warga nonpribumi memiliki tanah di wilayah itu.

Rabu, 21 Mar 2018 05:54 WIB

Ilustrasi: Jogjakarta

Ilustrasi: Jogjakarta

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Beberapa waktu lalu sejumlah media memberitakan mengenai pengadilan yang menolak gugatan Handoko, advokat asal Yogyakarta yang merupakan warga keturunan Tionghoa. Handoko menggugat aturan di Provinsi Yogyakarta yang melarang warga nonpribumi memiliki tanah di wilayah itu.

Larangan itu ternyata sudah berlaku sejak tahun 1975 hingga sekarang. Sebagian orang menganggap larangan itu diskriminatif rasial, sedangkan sebagian lain permisif dan menganggap aturan itu demi melindungi pribumi.

Isu pribumi nonpribumi, warga keturunan, dan berbagai perbedaan latar belakang warga masih terus menyala bahkan dipelihara oleh sebagian orang di negeri ini. Meski bangsa ini sudah memiliki Undang-undang Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, tapi nyatanya masih banyak warga yang gemar memainkan isu itu, untuk kepentingan mereka.

Pilkada DKI Jakarta 2017 menjadi contoh nyata betapa mudahnya orang diaduk-aduk isu SARA, oleh kelompok penyebar hoaks dan fitnah. Kebencian terhadap etnis atau ras lain sangat mudah didapatkan dalam setiap percakapan, diskusi hingga media sosial.

Kebencian terhadap ras atau etnis tertentu akan memicu rasa selalu curiga, dan menumbuhkan diskriminasi dan sikap intoleransi.

Meski tanpa hiruk pikuk, hari ini, 21 Maret, dunia memperingati Hari Internasional untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial. 

Setiap orang setara, punya hak asasi yang sama, tanpa memandang ras atau etnis atau perbedaan lain. Kesetaraan hak dan antidiskriminasi merupakan inti dari prinsip-prinsip kemanusiaan.

Hari ini umat dunia saling mengingatkan: semua manusia sederajat, dan tidak boleh ada sikap menyalahkan atau membenci etnis atau kelompok lain yang berbeda. Sesuai isi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, yang tahun ini berusia 70 tahun, setiap negara dan setiap warga harus turut serta memerangi diskriminasi terhadap etnis yang berbeda.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.