Imunisasi Pasca-KLB Difteri Terkendala Libur Akhir Tahun

Imunisasi pasca-KLB atau ORI difteri dilakukan di tiga provinsi yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Saat ini ORI difteri baru mencapai 60 hingga 65 persen dari target yang seharusnya 95 persen.

Selasa, 19 Des 2017 17:57 WIB

Kegiatan imunisasi difteri di kampus Universitas Tarumanegara, Jakarta, Kamis (14/12/2017). (Foto: ANTARA/Galih Pradipta)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Kementerian Kesehatan terus berusaha untuk memperbanyak stok vaksin anti-difteri (Anti-Difteri Serum/ADS), guna menghadang penyebaran wabah difteri di Indonesia.

Sekretaris Jendral Kementerian Kesehatan, Untung Suseno Sutarjo berharap pada akhir bulan ini bisa menyediakan sekitar 4.000 vial atau wadah vaksin ADS.

Untung mengatakan pengadaan vaksin anti-difteri itu melalui produksi dalam negeri maupun impor. Ia telah meminta agar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membantu mempermudah importasi vaksin tersebut.

"Kemarin dari Biofarma menyumbang 700 vial. Sekarang kami lagi minta ke BPOM agar bisa mengimpor ADS sekarang. Jadi bulan ini mungkin ada sekitar 4.000-an vial," kata Untung Suseno di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (19/12/2017).

Untung tidak menjelaskan rinci dari mana serum anti-difteri ADS akan diimpor. Ia hanya mengatakan Kementerian akan berusaha menyediakan ADS dari manapun dengan bantuan Badan POM.

Untung menambahkan jumlah vaksin difteri yang disebar ke daerah-daerah akan terus ditambah karena perusahaan BUMN Biofarma terus menambah jumlah pembuatan vaksin setiap bulannya. Ia juga mengklaim sudah memiliki buffer atau cadangan vaksin yang dapat digunakan jika Biofarma masih bekerja memproduksi vaksin.

Meski stok vaksin masih dalam proses pengadaan, Untung Suseno optimistis bisa mencapai target penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri melalui Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi pasca-kejadian luar biasa (KLB).

Imunisasi pasca-KLB atau ORI difteri dilakukan di tiga provinsi yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Saat ini ORI difteri baru mencapai 60 hingga 65 persen dari target yang seharusnya 95 persen. 

Untung mengatakan masih ada waktu untuk mencapai target itu. Ia mengatakan pemberian vaksin akan berbeda di setiap lokasi dan waktu pemberiannya. 

"Progresnya tergantung dari daerah. Kalau yang baru mulai ya baru sekitar 35 persen, tapi kalau sudah dilakukan sejak seminggu dua minggu lalu ya sudah sekitar 60-an persen. Masalahnya yang kita antisipasi kan ini menjelang libur akhir tahun, jadi agak susah nih," kata Untung.

Baca juga:


Bantuan WHO 

Untuk memastikan ketersediaan vaksin anti-difteri (ADS), Kementerian Kesehatan sebelumnya juga meminta bantuan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). 

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan, Mohammad Subuh mengatakan WHO telah setuju memberikan bantuan vaksin ADS untuk Indonesia sebanyak seribu hingga 2.000 dosis, karena ada KLB difteri.

Mohamad Subuh mengatakan tantangan pemenuhan kebutuhan ADS bukan hanya semata-mata soal dana, melainkan produksi yang memang terbatas. Subuh mengatakan saat WHO setuju memberi bantuan ADS pun, WHO juga perlu mencari pabrik yang bersedia memproduksi.

"Kami sudah berhubungan dengan WHO di India maupun di Jenewa, supaya mereka bisa memberikan bantuan. Mereka sudah merespon, oke. Mereka akan segera mengirim. Tetapi mereka kan juga harus mengontak pabrik, harus apa, bagaimana," kata Subuh kepada KBR, Kamis (14/12/2017).

Hingga pekan lalu, Kementerian Kesehatan hanya mengantongi 600 dosis ADS, yang bisa diberikan kepada sekitar 100 pasien difteri. Keterbatasan ADS bukan karena soal dana, melainkan keberadaannya yang sedikit di dunia. 

Subuh mengatakan stok vaksin ADS di dunia sangat sedikit, karena jarang pabrik yang mau memproduksi. Keengganan memproduksi itu lantaran penyakit difteri sudah jarang, sehingga apabila terus memproduksi, akan berisiko rugi lantaran tak laku di pasar. 

Dengan melibatkan WHO, menurut Subuh, akan banyak produsen yang bersedia memproduksi ADS untuk Indonesia. 

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.