Durasi Film G30S Dipangkas, Panglima TNI Tandaskan Tidak Ada Paksaan Warga Ikut Nobar

Panglima TNI Gatot Nurmantyo menegaskan tidak akan menarik telegram perintah untuk menonton film G30S/PKI. Menurut Gatot, film garapan Arifin C Noer itu sudah disunting dan diringkas durasinya.

Jumat, 22 Sep 2017 13:49 WIB

Panglima TNI Gatot Nurmantyo di Jakarta, Rabu (31/5/2017). (Foto: ANTARA/Widodo S Jusuf)

KBR, Jakarta - Panglima TNI Gatot Nurmantyo menegaskan tidak akan menarik telegram perintah untuk menonton film G30S/PKI. Menurut Gatot, film garapan Arifin C Noer itu sudah melalui tahap penyuntingan sebelum akhirnya diputar kembali.

Gatot menjelaskan, sebagian TNI daerah sudah menggelar acara nonton bareng film tersebut sehingga tidak mungkin telegram ditarik kembali. Ia pun memastikan bahwa film yang diputar itu sudah disunging sesuai fakta sejarah.

"Jadi film G30S/PKI itu sudah diedit, dari tadinya durasi empat jam menjadi tinggal satu jam. Yang mengedit itu mantan Kadispenad, Pak Brigjen TNI Panjaitan, yang sekarang jadi Duta Besar RI di Perancis, dan beliau juga anak dari pahlawan revolusi DI Panjaitan. Sehingga fakta-faktanya saja yang ditampilkan, tidak akan menyudutkan kemana-mana," katanya usai pertemuan dengan Purnawirawan TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (22/9/2017).

Gatot menegaskan tidak ada paksaan untuk menonton film itu. Menurut dia, hanya pasukannya sajalah yang dipaksa dan harus ikut menyaksikan film itu.

"Kalau prajurit ya saya paksa, karena itu urusan saya, pasukan saya. Kalau warga, tanya saja apa ada yang dipaksa?" jelasnya.

Terkait pembuatan film versi baru yang direncanakan pemerintah, Gatot memastikan apapun yang akan dibuat pemerintah, TNI menjadi bagian dari pemerintah.

"Kita ikut saja apa maunya pemerintah, karena kita bagian dari pemerintah. Cuma saya tegaskan, yang menyangkut agama dan ideologi itu tidak bisa diubah," tandas Gatot.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Paripurna DPR Tetapkan Tujuh Anggota Komnas HAM

  • Polisi Masih Dalami Politikus Penyandang Dana Saracen
  • DKI Ubah Trayek Angkutan Umum demi Program OK-OTRIP
  • Tidak Ada Logo Palu Arit di Spanduk Yang Digunakan Warga Demo Tolak Tambang Emas