Rusuh Karo, Komnas HAM: Polisi Sengaja Menyerang

"Rumah, mobil dan lain sebagainya yang dilakukan oleh aparat. Dipimpin oleh pimpinan kepolisian secara sadar dan sengaja,"

Kamis, 11 Agus 2016 21:37 WIB

Anggota Komnas HAM Natalius Pigai. (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan adanya kesengajaan Kepolisian Tanah Karo, Sumatera Utara menyerang warga Desa Lingga. Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mengatakan atas serangan itu belasan warga luka-luka dan satu orang meregang nyawa.

"Mereka (warga) berdemonstrasi kemudian juga bakar tenda kepolisian dan ekskavatornya ya. Lalu dibalas dengan sadar dan sengaja oleh aparat kepolisian menyebabkan 1 orang mati itu. Saya tidak bilang aparat kepolisian ya, menyebabkan 19 orang luka-luka, 1 kritis. Itu sebagai pemicu," kata Natalius Pigai di Komnas HAM Jakarta, Kamis (11/08/2016).

Komnas HAM juga menemukan fakta adanya perusakan harta benda milik masyarakat.

"Rumah, mobil dan lain sebagainya yang dilakukan oleh aparat. Dipimpin oleh pimpinan kepolisian secara sadar dan sengaja," ujar Pigai.

Kata dia, saat ini Kapolres Tanah Karo, Pangasian Sitio telah diberi sanksi disiplin oleh internal Kepolisian. Belakangan, Sitio telah dicopot dari jabatannya. Dia bersama 30 anggota sedang diperiksa oleh Tim Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri dan Polda Sumut.

Komnas HAM mencatat, bentrok antara warga dan aparat tersebut dipicu oleh kebijakan relokasi pengungsi erupsi Gunung Sinabung. Desa Lingga menjadi tempat relokasi warga dari empat desa pengungsi erupsi. Kebijakan tersebut dianggap warga Desa Lingga dapat menyebabkan pergeseran budaya dan akan menghilangkan potensi ekonomi di sektor pertanian. Desa Lingga juga telah ditetapkan sebagai desa budaya oleh pemerintah.

Akhir Juli lalu, warga memprotes pengembang yang menutup jalan raya Simpang Empat, Kabanjahe. Jalan itu merupakan akses masuk ke Desa Lingga dan dianggap sebagai jalan warisan nenek moyang. Warga juga meminta kepolisian untuk membongkar tenda polisi yang ada di jalan tersebut. Lantaran aparat tak mengindahkan, lantas warga membakar tenda dan alat berat. Pembakaran tersebut dibalas kepolisian dengan menangkap lima orang warga.

Balasan dari kepolisian menyebabkan satu warga bernama Abdi Purba meninggal dunia, satu orang bernama Ganefo Tarigan kritis, dan 19 orang luka-luka.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Permintaan PAN Mundur Dari Kabinet Bisa Jadi Masukan Presiden

  • Dua Eksekutor Penembak Gajah di Aceh Tengah Ditangkap
  • Diduga terkait Terorisme, Kuwait Usir Duta Besar Iran
  • Marcos Rojo Terancam Absen sampai 2018

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.