Semen Indonesia Bantah Langgar KLHS Pegunungan Kendeng

"Jadi kami dilarang menambang, pabrik boleh beroperasi. Itu sesuai dengan KLHS I.

Senin, 12 Jun 2017 19:21 WIB

Ilustrasi (foto: KBR/Musyafa)


KBR, Jakarta- PT. Semen Indonesia membantah telah melanggar kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) yang dikeluarkan pemerintah. Sekretaris Perusahaan, Agung Wiharko menjelaskan, aktivitas yang dimaksud bukan aktivitas yang dilarang dalam KLHS.

Kata dia, KLHS hanya melarang perusahaan untuk melakukan kegiatan tambang.

"KLHS melarang kami untuk melakukan penambangan tapi pabriknya belum beroperasi. Bahkan Pak San Afri Awang pada saat meninjau pabrik di Rembang bersama Komisi IV DPR-RI mengatakan, semen Rembang bisa membeli penambang di sekitar lokasi itu," kata Sekretaris Perusahaan, Agung Wiharko kepada KBR, Senin (12/06). 

Agung melanjutkan, "jadi kami dilarang menambang, pabrik boleh beroperasi. Itu sesuai dengan KLHS I. Ledakan itu untuk membuat akses jalan. Ada dua titik yang tidak bisa kami ratakan dengan peralatan biasa. Kami mendapatkan izin dari warga sekitar. Kami juga sudah melakukan sosialisasi."

Ia menambahkan, upaya pembukaan akses itu perlu dilakukan agar tidak mengganggu warga sekitar.

"Jadi suara ledakan yang didengar itu untuk buka jalan. Bukan untuk menambang," katanya.

Baca: Aktivitas PT Semen Indonesia Masih Berjalan


Selain itu ia mempertanyakan sikap warga yang hanya memprotes PT Semen Indonesia semata. Padahal kata Agung, perusahaan semen lain di sana, juga melakukan aktivitas pengeboman dalam rangka untuk menambang.

"Kalau yang kami lakukan bukan menambang, loh ya. Banyak perusahaan lain bahkan yang menambang, tapi tetap saja kami yang diprotes," ujarnya.

Sementara terkait KLHS yang dikeluarkan pemerintah, Agung menegaskan, perusahaannya akan mematuhi apapun yang ada dalam aturan tersebut.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Pecah Antrian, PT ASDP Merak Pisahkan Kendaraan Pemudik Dengan Kendaraan Niaga

  • Desa Sambirejo Timur Tolak Jenazah Pelaku Teror di Mapolda Sumatera Utara
  • Pengamat: Eks ISIS Harus Direhabilitasi Sebelum Kembali ke Masyarakat
  • Lima Hari Bertugas, Dokter Anestesi Ditemukan Meninggal Dunia

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?