Polisi Tembak Mati Terduga Pelaku Teror Bom di Rusunawa Wonocolo

Seorang terduga pelaku teror bom di Rusunawa Wonocolo di Sidoarjo, ditembak mati polisi lantaran mencoba meledakkan sisa bom.

Senin, 14 Mei 2018 01:30 WIB

Tim dari polisi berada di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Foto: Budi Prasetyo/KBR.

KBR, Surabaya - Seorang terduga pelaku teror bom di Rusunawa Wonocolo di Sidoarjo, ditembak mati polisi lantaran mencoba meledakkan sisa bom. Juru Bicara Polda Jawa Timur, Frans Barung Mangera, mengatakan pelaku diketahui bernama Anton. 

"Ketika kami ke lokasi, Anton membawa switching atau alat pemicu bom. Kami tidak mau ambil risiko, maka kami lumpuhkan," ujar Juru Bicara Polda Jawa Timur, Frans Barung Mangera, Senin (14/5/18).

Dia juga mengatakan, kini polisi tengah memboyong terduga pelaku ke RS Bhayangkara. Dari informasi polisi, terduga hendak melakukan aksi serupa di tiga gereja di Surabaya namun gagal karena bom meledak terlebih dahulu.

Sementara itu, akibat ledakan bom itu istri Anton dan seorang anak meninggal. Sedangkan tiga anak lainnya selamat dan telah dibawa ke rumah sakit Siti Khadijah Taman.

"Ada tiga yang meninggal," kata Frans Barung Mangera. 

Informasi ledakan bom di Rusunawa Wonocolo di Sidoarjo diterima polisi pukul 21.20 WIB. Ledakan berasal dari Blok B yang berada di lantai 5.

Sebelum insiden ledakan bom di Rusunawa, tiga gereja di Surabaya mendapat serangan teror. Tiga gereja itu yakni Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Santa Maria. Kapolri Tito Karnavian mengatakan pelaku bom bunuh diri itu diduga berasal dari satu keluarga.

Pelaku bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuna diketahui bernama Dita Supriyanto. Ia melancarkan aksinya menggunakan mobil Avanza. 

"Dari pagi tim bergerak sudah bisa mengetahui pelakunya. Pelaku diduga satu keluarga," kata Kapolri Tito Karnavian di Rumah Sakit Bayangkara pada Minggu (13/5/18).

sebelum melakukan aksi bom bunuh diri, pelaku menurunkan istrinya Puji Kuswati dan dua putrinya berusia 12 dan sembilan tahun untuk mengebom di Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro. Istri dan anak Dita mengebom gereja dengan melilitkan bom di pinggang. 

"Sebelumnya dia men-drop istrinya dan dua anak perempuan yang diduga meninggal bernama Puji Kuswati," pungkas Tito.

Sementara, pelaku pengeboman di Gereja Santa Maria merupakan dua putra Dita berusia 16 dan 18 tahun dengan memangku bom tersebut. 

Editor: Quinawaty

 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".