Dirazia Polisi, Penambang Pasir Ilegal Sungai Brantas Kocar-kacir

Saat sejumlah polisi mendatangi Sungai Brantas, belasan orang penambang pasir tengah beraktivitas menggunakan perahu dan mesin penyedot pasir atau ponton.

Rabu, 26 Okt 2016 16:58 WIB

Sejumlah pekerja tambang pasir ilegal sedang menyedot pasir di Sungai Brantas di Jombang, ketika polisi datang merazia , Rabu (26/10/2016). (Foto: Muji Lestari)



KBR, Jombang – Kepolisian Resort Jombang Jawa Timur merazia aktivitas tambang pasir ilegal di Sungai Brantas, di Kecamatan Megaluh, Jombang Jawa Timur.

Saat sejumlah polisi mendatangi Sungai Brantas, belasan orang penambang pasir tengah beraktivitas menggunakan perahu dan mesin penyedot pasir.

Razia yang dilakukan mendadak itu membuat sejumlah pekerja tambang kocar-kacir melarikan diri. Polisi hanya bisa menangkap tiga orang pekerja tambang.

Kepala Kepolisian Resort Jombang, Agung Marlianto mengatakan, tiga orang itu masih diperiksa polisi. Mereka mengaku sebagai kuli angkut dan sopir truk pengangkut hasil tambang.

Agung memastikan, jika terbukti bersalah, seluruh pelaku tambang bisa dijerat Undang-Undang tentang Minerba (Mineral dan batu bara).

Baca: Tambang Pasir Ilegal Kembali Beroperasi di Sungai Brantas

Selain di Sungai Brantas, razia tambang ilegal juga dilakukan di lokasi galian C ilegal yang berada tidak jauh dari bantaran sungai.

Dalam kegiatan itu Polisi mendapati sisa–sisa kubangan dengan kedalaman mencapai empat meter lebih.

"Itu juga dilaksanakan (penggalian) di daerah aliran sungai (DAS). Ini sangat mengkhawatirkan mengingat bekas dari galian tersebut tentunya ditinggal begitu saja oleh para pelaku. Untuk barang bukti yang kita amankan sementara ini baru satu kendaraan berisi satu pasir, kemudian peralatan cangkul dan ember yang digunakan oleh masyarakat juga kita amankan, dan pekerja yang melakukan kegiatan tersebut sudah kita amankan," kata Agung Marlianto di Jombang, Rabu (26/10/2016).

Informasi yang diperoleh KBR dari sumber-sumber di lapangan, kegiatan tambang pasir ilegal di Sungai Brantas sudah berlangsung cukup lama. Polisi setempat sebelumnya mengaku kesulitan melakukan penindakan, dengan alasan faktor wilayah yang berada di daerah tetangga yaitu Kabupaten Nganjuk.

Kapolres Jombang, Agung Marlianto mengatakan dalam waktu dekat bakal melakukan koordiansi dengan kepolisian Nganjuk guna bersama-sama menindak tegas aktivitas penambangan ilegal.

Agung mengatakan penambangan liar tidak bisa dibiarkan karena bisa berdampak membahayakan masyararakat yang tinggal di bantaran Sungai Brantas, baik di Nganjuk maupun di Kabupaten Jombang.

Baca: Tambang Pasir Ilegal Ditutup, Pengusaha di Banyuwangi Protes

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Kepolisian Siapkan 4 Ribu Personel Amankan Kunjungan Obama di Jakarta dan Bogor

  • Peningkatan Kendaraan Arus Balik Lebaran Terjadi di Tol Cileunyi
  • Penghapusan Sistem Kuota, Importir: Lihat Dulu Apa Komoditasnya
  • Militer Filipina Temukan 17 Jenazah yang Dimutilasi di Marawi

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?