Jumlah Buruh Migran Berkaitan dengan Angka Kemiskinan

"Padahal, Cilacap punya pertamina lho."

Senin, 26 Sep 2016 18:46 WIB

Ilustrasi



KBR, Cilacap– Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto menyebut terdapat korelasi langsung antara jumlah buruh migran di Cilacap yang tinggi dengan angka kemiskinan. Peneliti LPPM Univ Jenderal Soedirman Purwokerto, Tyas Retno Wulan mengatakan semakin tinggi jumlah buruh migran menunjukkan indeks angka kemiskinan yang tinggi dan sempitnya lapangan kerja. Sebab, rata-rata pekerja migran merupakan kelas menangah bawah.

Berdasar data terbaru, kata Tyas, Kabupaten Cilacap memiliki jumlah buruh migran tertinggi di Jawa Tengah yakni mencapai 10.753 orang. Sedagkan di Indonesia, Cilacap berada di urutan ketiga setelah Lombok Timur dengan jumlah buruh migran 25.772 orang dan Indramayu, Jawa Barat, 19.064 orang.

Diakui Tyas, angka buruh migran Cilacap semakin menurun dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pada tahun 2013 jumlah buruh migran mencapai 17.592. Kemudian menurun menjadi 16.013 orang pada tahun 2014 lalu dan terakhir 10.753 orang pada tahun 2015.

"Cilacap nomor tiga di Indonesia, nomor satu di Provinsi Jawa Tengah. Ini memprihatinkan. Ini data paling baru. Mengapa saya tadi bilang ini bukan berita yang menggembirakan jika tertinggi nomor tiga di Indonesia? Karena menunjukkan tingginya angka kemiskinan. Padahal, Cilacap punya pertamina lho. Semakin banyak orang yang pergi, semakin banyak persoalan yang dihadapi," katanya, Senin (26/09/2016).
 
Lebih lanjut, Tyas Retno mengatakan, persoalan buruh migran tidak hanya dihadapi oleh buruh yang bersangkutan. Keluarga yang ditinggalkan pun berpotensi bermasalah. Terutama anak yang ditinggalkan. Lembaganya, kata dia, juga tengah meneliti anak-anak yang ditinggalkan oleh ibunya ke luar negeri dan diasuh oleh ayah atau keluarganya.

Dia berharap pemerintah mampu menciptakan lapangan kerja yang berpihak kepada buruh perempuan. Dengan begitu, angka buruh migran di daerah asal semakin menurun.

Editor: Dimas Rizky

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

RKUHP, Koalisi Kebebasan Pers Sangsi Audiensi dengan DPR Bawa Perubahan

  • BMKG : Kemarau di Aceh Berlanjut Hingga Maret
  • Israel Beli Minyak Ke ISIS
  • TC Tahap Dua TImnas, Milla Tak Panggil Evan Dan Ilham

Tidak lama lagi kita akan merayakan pesta rakyat yang diadakan setiap 5 tahun sekali. Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden yang jatuh pada tahun 2019.