Kuatir Lumpuh, Satu Sekolah di Banyumas Tolak Imunisasi

"Kalau sekolah dan pondok itu kan jumlah siswanya banyak. Kalau menolak, dan tidak bisa diatasi, nanti jadi viral"

Jumat, 18 Agus 2017 10:35 WIB

Ilustrasi: Petugas Puskesmas Sindangbarang Bogor memberikan imunisasi campak Rubella kepada siswa di SD Insan Kamil, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/8). (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Banyumas– Kabar   vaksin measles rubella (MR) menyebabkan lumpuh di Demak, Jawa Tengah   berpengaruh terhadap institusi pendidikan di Banyumas. Satu sekolah yang bernaung di bawah sebuah yayasan pendidikan berlatar keagamaan   menolak imunasi MR yang digulirkan pemerintah pada Agustus dan September ini.
 
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, Sudiyanto mengatakan informasi itu diperolehnya ketika petugas memverifikasi jumlah peserta imunisasi    sekolah tersebut menolak imunasi. Dinkes lantas mendekati camat, kepala desa, tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat untuk berbicara kepada sekolah bersangkutan. Selain itu, petugas Dinkes juga ditugaskan khusus untuk menjelaskan vaksin MR dan manfaatnya di masa depan.
 
Sudiayanto menjelaskan, dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa sekolah bersangkutan khawatir terjadi efek samping berupa kelumpuhan, seperti yang terjadi di Demak. Lantas, petugas pun menjelaskan bahwa empat anak yang kemudian lumpuh di waktu yang bersamaan itu memang memiliki kelainan saraf yang kebetulan saja terpicu secara bersamaan, yang dalam dunia medis disebut sebagai co-incidence, atau kejadian yang kebetulan.
 
Akhirnya, sekolah tersebut tak jadi menolak dan menerima petugas yang mengimunisasi ratusan siswanya.
 
“Alhamdulillah tidak jadi menolak. Kalau sekolah menolak itu kan jadi banyak, Pak. Kalau penolakan itu secara institusi ya. Kalau secara individu mungkin dari 404.175 anak, tidak berpengaruh banyak kepada targetnya kan. Tetapi kalau sekolah dan pondok itu kan jumlah siswanya banyak. Kalau menolak, dan tidak bisa diatasi, nanti jadi viral, yang lain nanti malah terpengaruh,” jelas Sudiyanto, Jumat (18/8/2017).
 
Lebih lanjut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, Sudiyanto menjelaskan, secara total di Banyumas terdata ada 404.175 anak yang bakal diimunisasi antara Agustus-September 2017 nanti. Hingga akhir pekan, petugas  telah menjangkau 58 persen angka tersebut.
 
Agustus ini, kata Sudiyanto, Dinkes menarget menyelesaikan imunisasi di sekolah-sekolah. Kemudian, pada September, imunisasi mulai menjangkau pondok pesantren dan umum. Khusus pesantren, Dinkes  juga melakukan sosialisasi formal melalui sosialisasi ke wali santri yang difasilitasi sekolah dan pendekatan informal melalui tokoh agama setempat.
 
Dia  optimistis target 95 persen imunisasi bakal tercapai. Sebab, saat ini tak lagi ada informasi adanya penolakan, baik oleh sekolah, pondok pesantren, maupun individu.
 
Sudiyanto menambahkan, untuk mengantisipasi penolakan-penolakan di sekolah atau pesantren, Dinas Kesehatan kembali mengintensifkan sosialisasi, baik pada pertemuan-pertemuan di masyarakat, maupun ke sekolah-sekolah yang dinilai berpotensi menolak dengan alasan tertentu.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Praperadilan Setnov Gugur

  • Pemkab Nunukan Hutang Rp 40 Miliar
  • Kanada Izinkan Ekspor Senjata ke Ukraina
  • Sepupu Nani Dapat Kontrak United

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi