Kaltim Tak Menarik bagi Investor

"kenapa sampai saat ini investor itu kayaknya masih sulit masuk Kalimantan Timur? Ternyata teman-teman pengusaha menginformasikan bahwa ketersediaan infrastrukturlah penyebabnya."

Senin, 28 Agus 2017 13:51 WIB

Ilustrasi. Tambang batubara di Kalimantan Timur. (Foto: ANTARA)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Balikpapan – Meski Kalimantan Timur merupakan daerah kaya sumber daya alam (SDA)---seperti batubara dan migas, namun rupanya itu tidak kunjung membuat Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi daerah tujuan investasi di Indonesia.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalimantan Timur (Kaltim) Slamet Brotosiswoyo mengatakan kini banyak investor dalam dan luar negeri yang enggan berinvestasi di Kaltim. Padahal, berdasarkan survei yang dilakukan Apindo Kaltim bersama lembaga riset dari Singapura, dalam empat tahun terakhir Kaltim menempati peringkat atas tujuan investasi selain Jakarta dan Jawa Timur.

Slamet Brotosiswoyo mengatakan banyak pengusaha mengeluh minimnya infrastruktur di Kaltim seperti ketersediaan jalan. Kondisi itu dianggap bisa membuat biaya logistik mahal.

Belum lagi ketersediaan pasokan listrik maupun air bersih yang hingga kini belum bisa teratasi. Slamet mengatakan investor harus berpikir dua kali jika ingin berinvestasi di Kaltim.

"Sebenarnya Kalimantan Timur ini sejak 2015, selalu masuk rangking di Indonesia berdasarkan survey tujuan investasi. Posisinya di bawah Jakarta dan Jawa Timur. Tapi kenapa sampai saat ini investor itu kayaknya masih sulit masuk Kalimantan Timur? Ternyata teman-teman pengusaha menginformasikan bahwa ketersediaan infrastrukturlah penyebabnya," kata Slamet, Senin (28/8/2017).

Apindo Kaltim, kata Slamet, juga menyoroti pembangunan infrastruktur yang dilakukan Pemerintah Provinsi Kaltim maupun Kota dan Kabupaten di provinsi itu yang ternyata tidak mendorong pertumbuhan ekonomi.

Slamet mencontohkan, di Kota Samarinda terdapat memiliki tiga stadion. Namun tiga stadion itu justru menjadi beban APBD untuk biaya pememiliharaan yang sangat mahal. Bahkan stadion Palaran kini kondisinya memprihatinkan.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Praperadilan Setnov Gugur

  • Pemkab Nunukan Hutang Rp 40 Miliar
  • Kanada Izinkan Ekspor Senjata ke Ukraina
  • Sepupu Nani Dapat Kontrak United

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi