Dinas Pendidikan Tetap Izinkan Siswa SMA Terduga Penganiaya Guru di Madura Ikut UN

Siswa berinisial CH itu saat ini masih menjalani pemeriksaan di Markas Polres Sampang, Madura, karena diduga menganiaya gurunya hingga tewas beberapa jam kemudian.

Jumat, 02 Feb 2018 15:33 WIB

Ilustrasi. (Foto: humas.polri.go.id/Publik Domain)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Surabaya - Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menjamin siswa SMAN 1 Torjun Sampang berinisial CH tetap bisa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) maupun Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN). 

Siswa berinisial CH itu saat ini masih menjalani pemeriksaan di Markas Polres Sampang, Madura, karena diduga menganiaya gurunya hingga tewas beberapa jam kemudian.

"Meski mengikuti proses hukum dan pemeriksaan, saya menjamin bahwa CH tetap bisa memperoleh haknya yakni mengikuti UNBK dan USBN," kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Saiful Rachman di Surabaya, Jumat (2/2/2018).

Saiful Rahman juga berharap agar pihak sekolah SMAN 1 Torjun Sampang tidak mengeluarkan siswa tersebut dan tetap mendidiknya agar menjadi lebih baik. 

"CH tidak akan dikeluarkan dari sekolah karena tujuan kami adalah mendidik siswa agar lebih baik. Akan tetapi kalau nanti sampai ditahan, maka dia tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar lagi. Itu nanti kita akan membicarakannya lagi," kata Saiful Rahman.

Meski mengizinkan ikut ujian, Saiful Rachman mengatakan, bisa jadi perilaku penganiayaan itu menyebabkan  siswaitu tidak lulus ujian. Kata Saiful, faktor kelulusan siswa sepenuhnya menjadi wewenang sekolah. 

"UNBK tidak jadi syarat kelulusan, tapi USBN yang menentukan sekolah. Termasuk dewan guru, termasuk perilaku nilai. Jika ingin lulus minimal nilai B. Kalau di bawah itu tidak lulus," tambah Saiful Rahman.

Saiful berharap agar kasus penganiayaan di sekolah tidak lagi terjadi. Ia meminta sekolah meningkatkan kewaspadaan tentang bahaya kekerasan, narkoba, pornografi hingga radikalisme yang mengancam dunia pendidkan.

"Yang harus diatasi itu, pertama kekerasan, narkoba, pornografi. Kemudian bencana, sekolah ambruk, banjir itu mempengaruhi proses belajar mengajar. Lalu kelima adalah radikalisme," kata Saiful Rahman.

Ahmad Budi Cahyono, seorang guru honorer atau guru tidak tetap di SMAN 1 Torjun Sampang meninggal beberapa jam setelah diduga mendapat pukulan dari siswa berinisial CH, pada Kamis (1/2/2018) pagi. 

Pada Kamis sore, Budi Cahyono tidak sadarkan diri, dan meninggal tidak lama setelah dilarikan ke RSUD Dr Soetomo.

Dokter mendiagnosa Budi Cahyono mengalami mati batang otak dan semua organ bagian dalam tidak berfungsi.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang