22 Keluarga Korban Longsor di Bangli Tinggal di Tenda Pengungsian bersama Jenazah

"Meminta kepada pemerintah agar rumah yang rusak bisa dibangun lagi. Rumah yang lima hancur tidak bisa dihuni lagi, dua mobil carry dan tiga motor masih tertimbun,"

Sabtu, 11 Feb 2017 00:20 WIB

Sebanyak 22 keluarga mengungsi akibat bencana longsor di Bangli, Bali, Kamis (11/02). (Foto: KBR/Yulius M.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Bali- Pengungsi korban longsor di  desa Songan, Kabupaten Bangil, Bali terpaksa tinggal bersama jenazah korban di tenda  bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali. Warga tampak masih trauma  dengan kejadian longsor yang terjadi Kamis malam. Sebagian warga terutama ibu-ibu terlihat masih kerap menangis histeris. Sebanyak 22 keluarga terpaksa bermalam di pengungsian bersama 7 korban yang meninggal.

Ketut Gedong salah seorang warga mengatakan saat kejadian banyak gemuruh dan petir serta hujan yang deras. Peristiwa yang terjadi pada malam hari itu membuat  banyak harta benda  yang tidak bisa diselamatkan.

"Meminta kepada pemerintah agar rumah yang rusak bisa dibangun lagi. Rumah yang lima hancur tidak bisa dihuni lagi, dua mobil carry dan tiga motor masih tertimbun," ujar Ketut Gedong di lokasi pengungsian, Jumat malam (11/02).

Warga yang meninggal terdiri dari; Jro Balian Resmi (33), Jro Balian Kadek Sriasih (7), Komang Agus Putra Santi (1), I Gede Sentana (40), Luh bunga (40), Kadek (20),  Ni luh susun (40). Sedangkan  tiga korban luka berat seperti patah kaki dan paha saat ini di rawat di Rumah Sakit Bangli.

Bantuan

Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta sore tadi meninjau lokasi pengungsian warga korban longsor desa Songan. Ia meminta warga untuk memgungsi ke tempat yang   disediakan pemerintah hingga situasi dinyatakan aman. Pemprov Bali membawa sejumlah bantuan yang dibutuhkan para pengungsi.

"Bantuan dari pemerintah berupa kebutuhan yang mendesak baik berupa makanan, yang diberikan kepada keluarga yang mengungsi, yang meninggal kemudian bantuan kesehatan serta santunan buat yang meninggal," ujar Ketut Sudikerta di lokasi pengungsian.

Kata dia untuk korban meninggal mendapat santunan sepuluh juta dan yang luka berat lima juta rupiah.  Jumlah warga yang mengungsi sementara sebanyak 22 keluarga.

Data dari BPBD Bali longsor juga terjadi di Desa Awan dengan empat korban meninggal serta di Desa Sukawana dengan dua korban meninggal. Dengan total rumah rusak berat tujuh rumah, warga yang luka berat tiga dan luka ringan dua orang.

BPBD Bali meminta warga disekitar gunung Batur waspada dengan cuaca angin kencang dan hujan lebat saat ini. Warga juga diminta mewaspadai jalan di Kintamani karena banyak ditemukan titik longsor baru. 

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.