Seorang pegawai Museum Radyapustaka menunjukkan naskah kuno tulisan tangan aksara Jawa. (Foto: Yudha Satriawan/KBR)


KBR, Solo - Puluhan buku kuno koleksi Museum Radyapustaka Surakarta Jawa Tengah ternyata sudah keluar dari museum itu karena dijual.

Bekas Ketua Komite Museum Radyapustaka Purnomo Subagyo mengatakan penjualan buku kuno itu diketahui berdasarkan bukti nota penjualan yang ditemukan dari pelacakan yang ditemukan Tim Komite Museum.

Menurut Purnomo, tim melacak buku-buku kuno tersebut dan ternyata tersimpan di sebuah perpustakaan universitas negeri di Jakarta. Purnomo mengatakan penjualan buku kuno koleksi Museum Radyapustaka ini terjadi sebelum terbentuknya Komite Museum Radyapustaka.

"Ya memang ada bukti nota penjualannya. Saya sudah lihat dan saya lupa tahun dan nominalnya. Ada sekitar 20-an buku kuno koleksi museum yang dijual. Saya sudah cek ke kampus itu, masih di perpustakaan, masih ada stempel Museum Radyapustaka. Itu ada di Universitas Indonesia. Penjualan buku kuno koleksi museum ini dilakukan sebelum terbentuknya Komite Museum. Dulu kan itu dikelola Yayasan Radyapustaka," kata Purnomo Subagyo.

Baca juga:


Purnomo menyebutkan dalam dokumen penjualan buku kuno ini berupa nota tertulis ada 20 buku yang dijual ke Perpustakaan Fakultas Sastra Daerah PTN di Jakarta. Nilai jual buku tersebut Rp 195 ribu.

Tahun 2013, Komite Museum melacak dan menemukan buku-buku itu tersimpan di perpustakaan tersebut dan masih ada stempel Museum Radyapustaka.

Informasi yang diperoleh, buku-buku kuno ini dipindah ke Perpustakaan pusat universitas negeri itu. Diantara puluhan buku ini masih berupa tulisan tangan jawa kuno, salah satunya Naskah Bausastra.

Saat ini pengelolaan Museum Radyapustaka berpindah dari Komite Museum ke pemerintah Kota Solo di bawah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Permuseuman.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!