Ilustrasi: aksi damai tolak kekerasan terhadap jurnalis (Foto: Musyafa/KBR)

KBR, Jakarta- 4 wartawan dianiaya anggota kepolisian saat meliput pembubaran aksi demo suporter sepakbola Persebaya 1927 di Surabaya. Menurut salah satu jurnalis Rajawali TV yang juga menjadi korban, Solihul Hadi, selain dianiaya, peralatan kerja juga dirampas.

Ujarnya, kasus ini sudah dilaporkan ke Propam Polresta Surabaya, "Teman-teman di Surabaya tadi sudah bertemu dengan Wakapolres dan korban. Di situ saya dengan teman-teman yang lain, tetap melakukan laporan masalah kasus pemukulan dan perampasan," jelas Jurnalis Rajawali TV Solihul Hadi kepada KBR, Jumat (11/11/2016)

Solihul Hadi menjelaskan, dirinya mengalami penganiayaan berupa pemukulan dengan pentungan dan juga perampasan kartu penyimpanan kameranya. Dia bercerita, sudah berusaha mempertahankan alat kerjanya. Namun dia dikepung oleh aparat dengan jumlah belasan dan melakukan kekerasan.

"Tiba-tiba melayang pukulan dari atas, pakai pentungan, kaget saya. Saya marah dan mempertanyakan kenapa pakai memukul. Mereka berusaha mengambil kamera yang aku dekap. Ada teriakan dari polisi untuk mengambil memori. Ketika saya buka tempat memori, tangan dia langsung mengambil memorinya," jelasnya.

Dia berharap ada permintaan maaf dari kepolisian dan mengusut pelaku pemukulan serta perampasan memori kameranya. Karena kata dia, memori yang dirampas membuat dirinya tidak bisa melanjutkan kerja jurnalis, "Permintaan maaf jelas, kedua saya meminta diusut siapa pelaku pemukulan dan perampasan memori saya. Karena saya tidak bisa mengirim berita lagi, saya tidak bisa kerja lagi, memori tidak ada karena saya tidak punya cadangan memori lagi saat itu," harapnya.

Sebelumnya, aksi suporter Persebaya Surabaya 1927 di Kota Surabaya, Jawa Timur sempat memanas. Hal itu karena Kongres PSSI 2016 di Jakarta, tidak mengakui klub tersebut sebagai klub di bawah naungan PSSI. Karenanya, suporter yang disebut bonek melakukan aksi unjuk rasa di beberapa titik di Kota Surabaya untuk memprotes keputusan wadah sepakbola tanah air tersebut.

Editor: Dimas Rizky 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!