Ilustrasi: deretan ruko di pulau D reklamasi Jakarta (Foto: Ria/KBR)



KBR, Jakarta- Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BPPKP-KKP) mengkritisi solusi yang ditawarkan Menko Maritim Luhut Panjaitan bagi para nelayan yang terdampak reklamasi. Kata Kepala BPPKP bidang sosial ekonomi, Rameyo Adi, tidak semudah itu memindahkan fishing ground atau areal tangkap para nelayan. Pasalnya, kegiatan ekonomi para nelayan kecil selama ini didasarkan pada jaringan sosial.

"Nelayan itu tidak sendirian. Beda dengan perikanan kelas tinggi, kelas besar, mereka selalu didasarkan berbasis transaksi, berbasis kontrak. Tetapi untuk nelayan kecil itu tidak ada kontrak, tapi menggunakan jejaring sosial. Jadi tidak bisa nelayan tersebut dicabut kemudian dipindahkan. Sementara jejaring sosialnya ada disini," ujar Adi, Kamis (29/9/2016).

Awal September lalu, Luhut menjanjikan nelayan yang terdampak reklamasi akan dipindah area melautnya ke Natuna. Dia juga berjanji mereka akan dimodali kapal dan diberikan rumah susun untuk mengganti tempat tinggal mereka.

Namun menurut Adi, memindahkan area penangkapan saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu memikirkan ke mana nanti hasil tangkap mereka akan diserap.

"Mereka biasanya sudah punya jaringannya sendiri-sendiri. Kalau ditanya kenapa, sulit juga kalau pakai logika. Kadang berbasis rasa senang aja. Misal juga kalau di sini saya bisa ngutang," tambahnya.

Data dari Dinas Perikanan Jakarta Utara sendiri, hingga 2013 total ada 21.049 nelayan pekerja dan 2.979 nelayan pemilik kapal. Rata-rata dari mereka bekerja menggunakan kapal kecil. Adi membantah jika dikatakan di Pantai Utara Jakarta sudah tidak ada lagi nelayan dan pembangunan giant sea wall tidak mengganggu fishing ground nelayan.

Hasil penelitian Balitbang KKP justru menunjukkan di dalam area yang nantinya akan terbendung giant sea wall itu masih terdapat fishing ground. Perkiraan potensi bio massnya masih di atas 2 ton. Jenisnya beragam mulai dari ikan kembung, layur, gulamah, dan petek.

Untuk ikan kembung biomassnya masih mencapai 3,8 ton, layur 6,1 ton, gulamah 3,7 ton, dan petek 2,5 ton. Sebagai contoh di kawasan Muara Angke. Di situ, kata Adi, masih terdapat 9.626 nelayan dengan 1.928 unit kapal yang beroperasi.

Hal ini nantinya tidak hanya akan berdampak kepada para nelayan, tetapi juga para pengepul hasil tangkap, pedagang eceran, hingga ke konsumen.

Editor: Dimas Rizky

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!